Seorang Boss sebuah perusahaan besar, Pak Jono (68 tahun), berbicara dengan sekretarisnya, Santi:
"Minggu depan, kita atur untuk pergi perjalanan dinas selama seminggu, tolong siap-siap ya Say..."
Si Sekretaris, Santi kemudian telepon suaminya, Rudy:
"Mas, minggu depan saya mau berangkat untuk perjalanan dinas selama seminggu, hati-hati di rumah ya."
Sang Suami, Rudy, telepon kekasih gelapnya, Rita:
"Say.. Minggu depan Istriku mau berangkat selam seminggu, kau ada waktu?"
Si Kekasih gelap, Rita, bilang terhadap anak kursusnya, Ary:
"Nak, minggu depan ibu punya banyak pekerjaan selama seminggu, kursus ditiadakan selama seminggu."
Si Anak kursus, Ary, bilang terhadap kakeknya, Pak Jono:
"Kek, minggu depan Ary seminggu tidak ada kursus, gurunya sibuk. Ayo kita jalan-jalan. "
Sang Kakek yang juga sang boss pak Jono langsung telepon sekretarisnya, Santi:
"Minggu depan saya mau jalan-jalan sama cucu saya, perjalanan meeting dibatalkan."
Si Sekretaris, Santi, telepon suaminya, Rudy:
"Boss saya ada pekerjaan rumah yang mendadak, tripnya dibatalkan Mas."
Sang Suami, Rudy, bilang kekasih gelapnya, Rita:
"Cintaku.. Minggu depan Kau tak usah datang, istriku tak jadi pergi."
Si Kekasih gelap, Rita, telepon anak kursusnya, Ary :
"Nak, kursus minggu depan berjalan seperti biasa."
Si Anak kursus, Ary, bilang sama kakeknya, Pak Jono:
"Kek, guruku bilang kursus minggu depan berjalan normal. Kakek jalan sendiri aja."
Si Kakek, Pak Jono, bilang sama sekretarisnya, Santi:
"Minggu depan kita atur perjalanan dinas lagi. Kamu siap-siap, yah Say…!"
HASTA LA VICTORIA SIEMPRE
Nasumuti sonbay Fatu [PRO ERNESTO CHE GUEVARA] Belajar mengabdi kebenaran, berlatih bersahabat dengan keadilan, dan terus mengakrabi kemanusiaan serta BERTEKUN DALAM PROSES PEMBEBASAN!!
Friday, February 17, 2012
Tentang Sapi Timor
Mengapa Harus Bangga?
Tidak terlalu penting membahas genealogi dan anatomi sapi bali (bos Balinesse/bos Javanicus/bos sondaicus) dalam uraian ini. Banyak pendapat tentang sejarah kemunculan dan pengembangbiakan spesies ini memiliki rujukan pada domestikasi banteng (Bos) di beberapa tempat melalui perkawinan silang dengan spesies sapi lokal. Kontekstualisasi perkembangannya pun bervariasi antar-daerah. Di Kalimantan (bos Iowa), jenis ini masih kurang cepat evolusinya dan lamban dalam reproduksi. Namun, di wilayah Selatan-Tenggara Indonesia seperti Bali, NTB dan NTT serta sebagian wilayah Sulawei Selatan, jenis ini memiliki ruang tumbuh yang maksimal.
Sapi Bali merupakan salah satu spesies sapi khas Indonesia. Apakah sapi jenis ini memang berasal dari luar Timor atau sapi jenis ini sudah ada di Timor sejak sedia kala, latar historis orang Timor yang hanya memiliki dokumentasi dalam tradisi lisan belum terlalu kuat untuk mengalahkan dominasi orang-orang di tempat lain yang lebih dahulu mengklaim nama dan juga mencari perbenturan ilmiah terhadap sapi jenis ini. Sapi yang bisa melakukan metamorfosis secara seksual khususnya dalam perubahan warna kulit ini terbilang cepat mencapai usia tumbuh maksimal. Jenjang waktu satu setengah tahun merupakan waktu hidup yang ideal bagi sapi ini untuk menyentuh garis kematangan.
Sekadar Cerita
Pada trimester kedua tahun 2010, Indonesia yang dianggap ‘sadis’ dalam menjagal sapi-sapi Australia mengalami sedikit krisis daging sapi ketika negara tetangga Indonesia tersebut menyatakan embargo pengiriman sapi. Untunglah peternakan sapi di pulau Jawa dan Sumatera masih bisa meng-handle ancaman ketaktersediaan ini. Namun, sangatlah disayangkan peternak-peternak sapi NTT khususnya di Pulau Timor tidak memaknai momen ini sebagai momentum rahmat dalam krisis (blessing in disguise). Harga sapi yang melambung naik tidak digunakan untuk kembali membidik ternak sapi sebagai salah satu bidang usaha. Sebagian besar orang Timor justeru terperangkap dalam riuhnya rupiah karena mangan.
Daya kompetisi yang masih minim, pun tingkat kesadaran edukasi yang masih minim, serta ditambah beberapa list persoalan sosial yang belum terselesaikan di NTT mungkin telah menjadi jawaban atas ketakberdayaan ini. Padahal, restoran-restoran ternama misalnya di Selatan Thailand, justeru memilih menggunakan daging sapi Bali yang diimpor dari Sumatera dan Kalimantan sebagai bahan dasar menu utama dan spesialnya.Daging sapi Bali juga hadir di meja-meja jamuan elite misalnya di kapal pesiar, hotel berbintang dan ruang-ruang kuliner megah lainnya. Ekspetasi luar biasa dari pemilik-pemilik restoran di beberapa tempat di Asia Tenggara ini tidaklah berlebihan. Karena, tekstur daging sapi Bali lebih renyah dan gurih, ketimbang daging sapi mancanegara dengan lapisan lemak yang sedikit lebih banyak. Kebijakan ini juga yang membuat adanya kasta-kasta daging dan propaganda yang berbeda.
Di Indonesia misalnya, untuk beberapa restoran elite, daging sapi Bali selalu menjadi pilihan utama bahkan untuk beberapa tempat menjadi satu-satunya pilihan. Kadar lemak karkas yang rendah membuat sapi jenis ini memiliki keunggulan yang tidak pernah disepelekan para koki hebat. Sebaliknya restoran-restoran kelas menengah ke bawahlah, yang selalu menggunakan daging sapi impor. Intinya, kualitas daging sapi Bali masih menjadi yang pertama dibandingkan dengan daging sapi impor. Metode pengawetan daging sapi dengan cara dijemur (dendeng-daging kering) juga hanya bisa maksimal dengan daging sapi Bali.
Karakteristik
Hal-hal yang tidak pernah menyentuh publikasi di atas cenderung dianggap sepele (taken for granted) dan kurang mendapat perhatian. Peternakan sapi sudah banyak ditinggalkan oleh peternak-peternak di daerah rural dan padang Sabana Timor hanya karena sebagian dari mereka menganggap lama waktu pemeliharaan tidak menguntungkan. Padahal, hampir semua peternak di pulau Jawa dan Sumatera hanya menghabiskan waktu satu hingga dua jam sehari untuk mengurus sapi. Rata-rata seorang peternak bisa mengurus hingga lima atau enam ekor sapi.
Peternakan secara liar dengan mengandalkan pengembalaan membuat beberapa persepsi orang mengenai peternakan di Timor dianggap lumrah. Yang perlu didorong adalah penggabungan metode peternakan dari yang klasik dan yang modern. Sapi Bali yang terkenal subur (fertil) dengan angka keberhasilan pembenihan hingga 88 persen ini (bdk. Sapi impor yang hanya 56-58 persen) sepantasnya tidak mengalami penurunan jumlah di pulau Timor hanya karena ditolak di kalangan peternak sendiri. Secara geografis alam pulau Timor merupakan salah satu tempat terbaik bagi adaptasi dan perkembangan sapi jenis ini, karena sapi ini terkenal dengan tingkat penyesuaian dan perkembangan yang gemilang di daerah-daerah dengan suhu ekstrim.
Kebijakan
Sayangnya, sapi yang hidupnya di alam kering Timor dan bisa menjadi menu favorit kalangan elite di restoran-restoran ternama tidak memacu orang Timor khususnya dan NTT umumnya untuk berbangga. Bangga karena bisa menjadi bagian dari kekhususan ini, pun mungkin lebih bangga karena bisa memelihara dan beternak sapi spesial ini. Hal yang paling penting dilakukan adalah menggeser paradigma berpikir dan pemaknaan terhadap peluang. Dan untuk itu, mentalitas kewirausahaan harus menjadi hal penting dalam proses mengembalikan kejayaan sapi di pulau Timor. Tidak perlu ada adu fisik karena seleksi CPNS kalau semua orang bisa memaknai peluang berwirausaha. Juga, tidak perlu ada korban lagi karena mangan, kekurangan air bersih, anomali cuaca dan lain sebagainya. Semua memilih meninggalkan dan mematikan warisan sejarah ini dan mengalihkan kiblatnya pada usaha instan yang boleh jadi tidak berprikemanusiaan hanya karena ingin cepat memperoleh uang yang nantinya juga cepat dihabiskan. Sapi bali juga secara ekonomis sangat menguntungkan karena harga jualnya yang tidak pernah anjlok, bahkan selalu meningkat.
Kebanggaan menjadi salah satu penghasil sapi Bali juga harus memiliki ruang tumbuh yang ‘jelas’ dalam konsepsi pembangunan dan kebijakan pemerintah. Sudah tidak jamannya lagi pemerintah kekeuh dengan kebijakan top-down yang selalu menyisipkan kemiskinan dan ketakberdayaan geografis dan sosial-kependudukan NTT sebagai jualan. Sepantasnya pemerintah juga membidik dengan serius jenis usaha ini. Ironi kebijakan ini juga yang membuat pada ranah praktis banyak terjadi ketidakcocokan yang membuat risih. Begitu banyak sarjana pertanian, peternakan dan sarjana-sarjana teknis lainnya memilih untuk bekerja di belakang meja, mengambil jalur politis dan tidak ada yang mengaplikasikan ilmunya langsung di lapangan. Lantas, salah siapa jika akhirnya orang NTT tersudut di titik-titik determinasi sejarah yang meluruhkan kebanggaan itu sendiri?
Orang Timor dan NTT umumnya, masih terkesan takut dan malu bersaing dengan orang lain. Mentalitas kompetitif ini juga harus masuk dalam rangkaian perbaikan iklim kewirausahaan di NTT. Karakteristik sapi yang khas ini layak membuka mata peternak di wilayah Timor, sumba dan Flores untuk tidak lagi takut dan malu memelihara dan mengembangbiakan sapi Bali. Atau mungkin, perlu ‘anggur baru’ untuk menajamkan kebanggaan ini?
Tidak terlalu penting membahas genealogi dan anatomi sapi bali (bos Balinesse/bos Javanicus/bos sondaicus) dalam uraian ini. Banyak pendapat tentang sejarah kemunculan dan pengembangbiakan spesies ini memiliki rujukan pada domestikasi banteng (Bos) di beberapa tempat melalui perkawinan silang dengan spesies sapi lokal. Kontekstualisasi perkembangannya pun bervariasi antar-daerah. Di Kalimantan (bos Iowa), jenis ini masih kurang cepat evolusinya dan lamban dalam reproduksi. Namun, di wilayah Selatan-Tenggara Indonesia seperti Bali, NTB dan NTT serta sebagian wilayah Sulawei Selatan, jenis ini memiliki ruang tumbuh yang maksimal.
Sapi Bali merupakan salah satu spesies sapi khas Indonesia. Apakah sapi jenis ini memang berasal dari luar Timor atau sapi jenis ini sudah ada di Timor sejak sedia kala, latar historis orang Timor yang hanya memiliki dokumentasi dalam tradisi lisan belum terlalu kuat untuk mengalahkan dominasi orang-orang di tempat lain yang lebih dahulu mengklaim nama dan juga mencari perbenturan ilmiah terhadap sapi jenis ini. Sapi yang bisa melakukan metamorfosis secara seksual khususnya dalam perubahan warna kulit ini terbilang cepat mencapai usia tumbuh maksimal. Jenjang waktu satu setengah tahun merupakan waktu hidup yang ideal bagi sapi ini untuk menyentuh garis kematangan.
Sekadar Cerita
Pada trimester kedua tahun 2010, Indonesia yang dianggap ‘sadis’ dalam menjagal sapi-sapi Australia mengalami sedikit krisis daging sapi ketika negara tetangga Indonesia tersebut menyatakan embargo pengiriman sapi. Untunglah peternakan sapi di pulau Jawa dan Sumatera masih bisa meng-handle ancaman ketaktersediaan ini. Namun, sangatlah disayangkan peternak-peternak sapi NTT khususnya di Pulau Timor tidak memaknai momen ini sebagai momentum rahmat dalam krisis (blessing in disguise). Harga sapi yang melambung naik tidak digunakan untuk kembali membidik ternak sapi sebagai salah satu bidang usaha. Sebagian besar orang Timor justeru terperangkap dalam riuhnya rupiah karena mangan.
Daya kompetisi yang masih minim, pun tingkat kesadaran edukasi yang masih minim, serta ditambah beberapa list persoalan sosial yang belum terselesaikan di NTT mungkin telah menjadi jawaban atas ketakberdayaan ini. Padahal, restoran-restoran ternama misalnya di Selatan Thailand, justeru memilih menggunakan daging sapi Bali yang diimpor dari Sumatera dan Kalimantan sebagai bahan dasar menu utama dan spesialnya.Daging sapi Bali juga hadir di meja-meja jamuan elite misalnya di kapal pesiar, hotel berbintang dan ruang-ruang kuliner megah lainnya. Ekspetasi luar biasa dari pemilik-pemilik restoran di beberapa tempat di Asia Tenggara ini tidaklah berlebihan. Karena, tekstur daging sapi Bali lebih renyah dan gurih, ketimbang daging sapi mancanegara dengan lapisan lemak yang sedikit lebih banyak. Kebijakan ini juga yang membuat adanya kasta-kasta daging dan propaganda yang berbeda.
Di Indonesia misalnya, untuk beberapa restoran elite, daging sapi Bali selalu menjadi pilihan utama bahkan untuk beberapa tempat menjadi satu-satunya pilihan. Kadar lemak karkas yang rendah membuat sapi jenis ini memiliki keunggulan yang tidak pernah disepelekan para koki hebat. Sebaliknya restoran-restoran kelas menengah ke bawahlah, yang selalu menggunakan daging sapi impor. Intinya, kualitas daging sapi Bali masih menjadi yang pertama dibandingkan dengan daging sapi impor. Metode pengawetan daging sapi dengan cara dijemur (dendeng-daging kering) juga hanya bisa maksimal dengan daging sapi Bali.
Karakteristik
Hal-hal yang tidak pernah menyentuh publikasi di atas cenderung dianggap sepele (taken for granted) dan kurang mendapat perhatian. Peternakan sapi sudah banyak ditinggalkan oleh peternak-peternak di daerah rural dan padang Sabana Timor hanya karena sebagian dari mereka menganggap lama waktu pemeliharaan tidak menguntungkan. Padahal, hampir semua peternak di pulau Jawa dan Sumatera hanya menghabiskan waktu satu hingga dua jam sehari untuk mengurus sapi. Rata-rata seorang peternak bisa mengurus hingga lima atau enam ekor sapi.
Peternakan secara liar dengan mengandalkan pengembalaan membuat beberapa persepsi orang mengenai peternakan di Timor dianggap lumrah. Yang perlu didorong adalah penggabungan metode peternakan dari yang klasik dan yang modern. Sapi Bali yang terkenal subur (fertil) dengan angka keberhasilan pembenihan hingga 88 persen ini (bdk. Sapi impor yang hanya 56-58 persen) sepantasnya tidak mengalami penurunan jumlah di pulau Timor hanya karena ditolak di kalangan peternak sendiri. Secara geografis alam pulau Timor merupakan salah satu tempat terbaik bagi adaptasi dan perkembangan sapi jenis ini, karena sapi ini terkenal dengan tingkat penyesuaian dan perkembangan yang gemilang di daerah-daerah dengan suhu ekstrim.
Kebijakan
Sayangnya, sapi yang hidupnya di alam kering Timor dan bisa menjadi menu favorit kalangan elite di restoran-restoran ternama tidak memacu orang Timor khususnya dan NTT umumnya untuk berbangga. Bangga karena bisa menjadi bagian dari kekhususan ini, pun mungkin lebih bangga karena bisa memelihara dan beternak sapi spesial ini. Hal yang paling penting dilakukan adalah menggeser paradigma berpikir dan pemaknaan terhadap peluang. Dan untuk itu, mentalitas kewirausahaan harus menjadi hal penting dalam proses mengembalikan kejayaan sapi di pulau Timor. Tidak perlu ada adu fisik karena seleksi CPNS kalau semua orang bisa memaknai peluang berwirausaha. Juga, tidak perlu ada korban lagi karena mangan, kekurangan air bersih, anomali cuaca dan lain sebagainya. Semua memilih meninggalkan dan mematikan warisan sejarah ini dan mengalihkan kiblatnya pada usaha instan yang boleh jadi tidak berprikemanusiaan hanya karena ingin cepat memperoleh uang yang nantinya juga cepat dihabiskan. Sapi bali juga secara ekonomis sangat menguntungkan karena harga jualnya yang tidak pernah anjlok, bahkan selalu meningkat.
Kebanggaan menjadi salah satu penghasil sapi Bali juga harus memiliki ruang tumbuh yang ‘jelas’ dalam konsepsi pembangunan dan kebijakan pemerintah. Sudah tidak jamannya lagi pemerintah kekeuh dengan kebijakan top-down yang selalu menyisipkan kemiskinan dan ketakberdayaan geografis dan sosial-kependudukan NTT sebagai jualan. Sepantasnya pemerintah juga membidik dengan serius jenis usaha ini. Ironi kebijakan ini juga yang membuat pada ranah praktis banyak terjadi ketidakcocokan yang membuat risih. Begitu banyak sarjana pertanian, peternakan dan sarjana-sarjana teknis lainnya memilih untuk bekerja di belakang meja, mengambil jalur politis dan tidak ada yang mengaplikasikan ilmunya langsung di lapangan. Lantas, salah siapa jika akhirnya orang NTT tersudut di titik-titik determinasi sejarah yang meluruhkan kebanggaan itu sendiri?
Orang Timor dan NTT umumnya, masih terkesan takut dan malu bersaing dengan orang lain. Mentalitas kompetitif ini juga harus masuk dalam rangkaian perbaikan iklim kewirausahaan di NTT. Karakteristik sapi yang khas ini layak membuka mata peternak di wilayah Timor, sumba dan Flores untuk tidak lagi takut dan malu memelihara dan mengembangbiakan sapi Bali. Atau mungkin, perlu ‘anggur baru’ untuk menajamkan kebanggaan ini?
Pencemaran Laut Timor
Kegagalan Diplomasi Indonesia
Daerah di luar pulau Jawa merupakan anak kandung NKRI yang menjalani hari-hari hidupnya sebagai anak tiri. Stigma kemiskinan dan keterbelakangan Indonesia justeru menjadi jelas di wilayah-wilayah ini. NTT sebagai salah satu provinsi yang dikategorikan miskin dan terbelakang hingga kini belum juga mampu hadir sebagai bagian utuh dan integral dari NKRI. Bukan cuma problematika sosial yang kompleks, hal-hal miris lainnya seolah terus dibebankan pada provinsi dengan ikon komodo ini.
Pencemaran laut Timor yang merugikan nelayan-nelayan NTT seakan bukan merupakan soal penting. Padahal, luas pencemaran yang sudah melebihi separoh luas wilayah NTT ini membuat setengah dari nelayan NTT tidak bisa bekerja maksimal. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga lagi, NTT kian terseok sebagai salah satu provinsi yang tak diperhatikan. Setelah luas dan batas wilayah NKRI dikikis pasca-hilangnya gugusan pulau pasir (ashmore reef), urusan kepemilikan laut Timor oleh tiga negara, Australia-Indonesia-Timor Leste kian amburadul. Celah Timor hampir tidak memberi kontribusi sedikit pun bagi kemajuan dan perkembangan NTT serta Indonesia umumnya.
Minyak dan mineral yang ada di wilayah ini lebih banyak menjadi mainan bisnis dua negara pengapit Indonesia. Indonesia yang diwakili NTT pada wilayah ini hanya bisa memperoleh sampah dan tumpahan minyak yang mematikan keanekaragaman biota laut di wilayah ini. Bahkan kekhasan NTT sebagai gerbang Selatan Indonesia terabaikan begitu saja, apalagi posisi geografisnya sebagai Provinsi provinsi perbatasan (Laut dan Darat) tidak pernah masuk dalam hitungan keseriusan pemerintah mengolah dan memanajemen keuntungan bagi rakyat. Zona Ekonomi Ekslusif hanya menjadi bahan pelajaran di peta dunia dan peta Indonesia untuk siswa Sekolah Dasar. Nelayan-nelayan Rote-Ndao senantiasa ditangkap dengan dalih melanggar batas negara, padahal kebanyakan mereka sudah melaut lebih dari ratusan tahun di wilayah yang akhirnya tidak jelas menjadi milik siapa.
Konstelasi dan konfigurasi politik nasional tentunya melemahkan posisi NTT untuk berbicara banyak. Tidak ada wakil rakyat dari NTT yang benar-benar serius membahas dan melemparkan hal ini untuk menjadi isu nasional. Soal perbatasan seringkali menjadi hal kecil yang dilabuhkan abadi di meja-meja para diplomat. Toh, tidak ada putra NTT dalam dua periode kepemimpinan SBY-Boediono yang duduk sebagai menteri. Posisi tertinggi hanya di DPR. Melchias Mekeng dan Beny Harman. Keduanya juga cenderung hanya menjadi pion kontroversial yang dimainkan untuk kepentingan lain. Ada juga beberapa putra NTT yang menjadi duta di negara-negara kecil lainnya.
Pelemahan posisi NTT ini berimbas pada takluknya titik tawar NTT dan Indonesia terhadap dua negara, Australia dan Timor Leste. Timor Leste, sekalipun dalam beberapa hal cenderung lebih buruk dari NTT telah memiliki keluasan untuk mengatur kemerdekaannya sendiri. Penyerobotan dan pencurian bisa saja terus terjadi. Belum lagi, jika yang ditugaskan untuk mengamankan wilayah perbatasan justeru bermain mata dan terjebak dalam arus suap. Kegagalan diplomasi Indonesia di tingkat pusat akan berimbas pada masyarakat di daerah. Urusan dan mainan Jakarta di ranah diplomatik menjadikan Kupang kian ‘kering dan gersang’ hari demi hari.
Kegagalan ini sangat mungkin terjadi karena sebagai provinsi korban NTT berada di muara dua kerusakan besar bangsa ini yakni, pertama penerapan relasi mutual pusat-daerah dalam pembentukan good governance hanya di tataran formal saja dan, kedua relasi politik daerah ke pusat lewat keterwakilan di parlemen tidak memiliki visi perjuangan dan sangat tidak transparan. Namun, hal ini tidak mengisyaratkan posisi pemerintah Provinsi NTT berada di titik aman. Sekalipun hubungan Jakarta-Perth tidak bisa dipangkas pendek menjadi Kupang-Perth atau Kupang-Darwin (seturut kewenangan otonomi), Gubernur selaku pemimpin politik tertinggi di Provinsi harus meminta pertanggungjawaban tegas siapa yang bermain di balik kehancuran dan pencemaran laut Timor, serentak mengambil tindakan tegas.
Hanya dengan mengambil tindakan tegas antara lain meminta dukungan dan percepatan lobi diplomatik pemerintah pusat. Gubernur bisa menunjukkan kepada Indonesia bahwa NTT masih berada dalam lingkup demokrasi dan kebernegaraan dengan keutuhan NKRI. Jika gubernur diam dan terus bersatu dalam ‘diam abadi’ bersama elemen-elemen terkait, maka iklim demokrasi yang bebas dan memayungi bangsa ini hanyalah awan kelabu di langit Nusa Flobamorata. Gubernur perlu berteriak agar para diplomat yang merasa aman-aman saja di ruang diplomasi ngeh dan sadar bahwa sesuatu yang salah dan menyengsarakan begitu banyak rakyat NTT harus diperbaiki.
Atau mungkin teriakan pemimpin NTT tidak bisa disampaikan karena telah terhalang sedikit bantuan dana Australia pada grand design anggur merah. Bantuan Australia yang boleh jadi hanyalah penutup mata bagi para pemimpin NTT agar tidak bisa melihat laut Timor yang sudah tercemar. Salep kulit yang diberikan para penembak, tidak bisa mengeluarkan peluru dan menyembuhkan luka di tubuh korban. NTT tidak pantas menerima salep kulit saja dari luka menganga akibat pencurian wilayah dan hasil alam di NTT pun racun peluru PTTEP Australasia yang mematikan potensi laut Timor di blok Montara.
Sudah saatnya pemerintah tidak bermain aman untuk mengeruk keuntungan sendiri, namun harus memilih menguatkan posisi rakyat di level akar rumput dengan pembelaan yang cerdas dan benar. Ketika diplomasi mentok, hemat saya akan ada banyak sukarelawan NTT yang bisa mengusir dan menunjukkan dengan cara paling purba bagaimana mempertahankan dan membela hak rakyat kecil. Diplomasi yang cenderung berputar-putar bisa dipangkas dengan kekuatan lain yang ada pada rakyat. Dan lesakkan kekuatan random yang senantiasa arkais dan anarkis ini harus bisa diantisipasi pemerintah. Pemerintah NTT sepantasnya tidak berpikir terus bahwa rakyat NTT masih belum mengerti kompleksitas persoalan yang terjadi. Pemerintah yang elegan adalah pemerintah yang sadar akan kebutuhan dan posisi rakyat, serta bisa menyuarakan ke level yang lebih tinggi atau ke sisi lain yang mengakibatkan sebuah perbenturan terjadi, bukan pemerintah yang hanya bisa diam dan terus diam setelah sekian banyak bantuan datang.
Kegagalan diplomasi di level atas dan juga banalisme akibat intervensi dan pembunuhan kreativitas dan karakteristik pemerintahan lokal akan menjadikan NTT dari tahun ke tahun sebagai provinsi terdepan. Terdepan dalam peminggiran dan marjinalisasi. Terdepan dalam ketakberdayaan untuk melawan keterpurukan yang terjadi, pun mungkin terdepan dalam permainan para elite. Apakah benar orang NTT tidak bisa mendirikan rumah adat baru di Pulau Pasir, atau membakar sedikit minyak di kilang minyak PTTEP Australasia sebagai bagian dari penajaman karakter kearifan lokal NTT?
Daerah di luar pulau Jawa merupakan anak kandung NKRI yang menjalani hari-hari hidupnya sebagai anak tiri. Stigma kemiskinan dan keterbelakangan Indonesia justeru menjadi jelas di wilayah-wilayah ini. NTT sebagai salah satu provinsi yang dikategorikan miskin dan terbelakang hingga kini belum juga mampu hadir sebagai bagian utuh dan integral dari NKRI. Bukan cuma problematika sosial yang kompleks, hal-hal miris lainnya seolah terus dibebankan pada provinsi dengan ikon komodo ini.
Pencemaran laut Timor yang merugikan nelayan-nelayan NTT seakan bukan merupakan soal penting. Padahal, luas pencemaran yang sudah melebihi separoh luas wilayah NTT ini membuat setengah dari nelayan NTT tidak bisa bekerja maksimal. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga lagi, NTT kian terseok sebagai salah satu provinsi yang tak diperhatikan. Setelah luas dan batas wilayah NKRI dikikis pasca-hilangnya gugusan pulau pasir (ashmore reef), urusan kepemilikan laut Timor oleh tiga negara, Australia-Indonesia-Timor Leste kian amburadul. Celah Timor hampir tidak memberi kontribusi sedikit pun bagi kemajuan dan perkembangan NTT serta Indonesia umumnya.
Minyak dan mineral yang ada di wilayah ini lebih banyak menjadi mainan bisnis dua negara pengapit Indonesia. Indonesia yang diwakili NTT pada wilayah ini hanya bisa memperoleh sampah dan tumpahan minyak yang mematikan keanekaragaman biota laut di wilayah ini. Bahkan kekhasan NTT sebagai gerbang Selatan Indonesia terabaikan begitu saja, apalagi posisi geografisnya sebagai Provinsi provinsi perbatasan (Laut dan Darat) tidak pernah masuk dalam hitungan keseriusan pemerintah mengolah dan memanajemen keuntungan bagi rakyat. Zona Ekonomi Ekslusif hanya menjadi bahan pelajaran di peta dunia dan peta Indonesia untuk siswa Sekolah Dasar. Nelayan-nelayan Rote-Ndao senantiasa ditangkap dengan dalih melanggar batas negara, padahal kebanyakan mereka sudah melaut lebih dari ratusan tahun di wilayah yang akhirnya tidak jelas menjadi milik siapa.
Konstelasi dan konfigurasi politik nasional tentunya melemahkan posisi NTT untuk berbicara banyak. Tidak ada wakil rakyat dari NTT yang benar-benar serius membahas dan melemparkan hal ini untuk menjadi isu nasional. Soal perbatasan seringkali menjadi hal kecil yang dilabuhkan abadi di meja-meja para diplomat. Toh, tidak ada putra NTT dalam dua periode kepemimpinan SBY-Boediono yang duduk sebagai menteri. Posisi tertinggi hanya di DPR. Melchias Mekeng dan Beny Harman. Keduanya juga cenderung hanya menjadi pion kontroversial yang dimainkan untuk kepentingan lain. Ada juga beberapa putra NTT yang menjadi duta di negara-negara kecil lainnya.
Pelemahan posisi NTT ini berimbas pada takluknya titik tawar NTT dan Indonesia terhadap dua negara, Australia dan Timor Leste. Timor Leste, sekalipun dalam beberapa hal cenderung lebih buruk dari NTT telah memiliki keluasan untuk mengatur kemerdekaannya sendiri. Penyerobotan dan pencurian bisa saja terus terjadi. Belum lagi, jika yang ditugaskan untuk mengamankan wilayah perbatasan justeru bermain mata dan terjebak dalam arus suap. Kegagalan diplomasi Indonesia di tingkat pusat akan berimbas pada masyarakat di daerah. Urusan dan mainan Jakarta di ranah diplomatik menjadikan Kupang kian ‘kering dan gersang’ hari demi hari.
Kegagalan ini sangat mungkin terjadi karena sebagai provinsi korban NTT berada di muara dua kerusakan besar bangsa ini yakni, pertama penerapan relasi mutual pusat-daerah dalam pembentukan good governance hanya di tataran formal saja dan, kedua relasi politik daerah ke pusat lewat keterwakilan di parlemen tidak memiliki visi perjuangan dan sangat tidak transparan. Namun, hal ini tidak mengisyaratkan posisi pemerintah Provinsi NTT berada di titik aman. Sekalipun hubungan Jakarta-Perth tidak bisa dipangkas pendek menjadi Kupang-Perth atau Kupang-Darwin (seturut kewenangan otonomi), Gubernur selaku pemimpin politik tertinggi di Provinsi harus meminta pertanggungjawaban tegas siapa yang bermain di balik kehancuran dan pencemaran laut Timor, serentak mengambil tindakan tegas.
Hanya dengan mengambil tindakan tegas antara lain meminta dukungan dan percepatan lobi diplomatik pemerintah pusat. Gubernur bisa menunjukkan kepada Indonesia bahwa NTT masih berada dalam lingkup demokrasi dan kebernegaraan dengan keutuhan NKRI. Jika gubernur diam dan terus bersatu dalam ‘diam abadi’ bersama elemen-elemen terkait, maka iklim demokrasi yang bebas dan memayungi bangsa ini hanyalah awan kelabu di langit Nusa Flobamorata. Gubernur perlu berteriak agar para diplomat yang merasa aman-aman saja di ruang diplomasi ngeh dan sadar bahwa sesuatu yang salah dan menyengsarakan begitu banyak rakyat NTT harus diperbaiki.
Atau mungkin teriakan pemimpin NTT tidak bisa disampaikan karena telah terhalang sedikit bantuan dana Australia pada grand design anggur merah. Bantuan Australia yang boleh jadi hanyalah penutup mata bagi para pemimpin NTT agar tidak bisa melihat laut Timor yang sudah tercemar. Salep kulit yang diberikan para penembak, tidak bisa mengeluarkan peluru dan menyembuhkan luka di tubuh korban. NTT tidak pantas menerima salep kulit saja dari luka menganga akibat pencurian wilayah dan hasil alam di NTT pun racun peluru PTTEP Australasia yang mematikan potensi laut Timor di blok Montara.
Sudah saatnya pemerintah tidak bermain aman untuk mengeruk keuntungan sendiri, namun harus memilih menguatkan posisi rakyat di level akar rumput dengan pembelaan yang cerdas dan benar. Ketika diplomasi mentok, hemat saya akan ada banyak sukarelawan NTT yang bisa mengusir dan menunjukkan dengan cara paling purba bagaimana mempertahankan dan membela hak rakyat kecil. Diplomasi yang cenderung berputar-putar bisa dipangkas dengan kekuatan lain yang ada pada rakyat. Dan lesakkan kekuatan random yang senantiasa arkais dan anarkis ini harus bisa diantisipasi pemerintah. Pemerintah NTT sepantasnya tidak berpikir terus bahwa rakyat NTT masih belum mengerti kompleksitas persoalan yang terjadi. Pemerintah yang elegan adalah pemerintah yang sadar akan kebutuhan dan posisi rakyat, serta bisa menyuarakan ke level yang lebih tinggi atau ke sisi lain yang mengakibatkan sebuah perbenturan terjadi, bukan pemerintah yang hanya bisa diam dan terus diam setelah sekian banyak bantuan datang.
Kegagalan diplomasi di level atas dan juga banalisme akibat intervensi dan pembunuhan kreativitas dan karakteristik pemerintahan lokal akan menjadikan NTT dari tahun ke tahun sebagai provinsi terdepan. Terdepan dalam peminggiran dan marjinalisasi. Terdepan dalam ketakberdayaan untuk melawan keterpurukan yang terjadi, pun mungkin terdepan dalam permainan para elite. Apakah benar orang NTT tidak bisa mendirikan rumah adat baru di Pulau Pasir, atau membakar sedikit minyak di kilang minyak PTTEP Australasia sebagai bagian dari penajaman karakter kearifan lokal NTT?
Thursday, February 16, 2012
IKLAN GRATIS
Banyak orang selalu berpikir bahwa iklan yang menarik dan menguntungkan itu mahal, berikut ini salah satu contoh iklan gratis, menarik, dan mengenakkan hati para penikmat produk
SELAMAT MENCOBA MEMBUAT IKLANMU SENDIRI
SELAMAT MENCOBA MEMBUAT IKLANMU SENDIRI
Wednesday, February 15, 2012
Belajar dari Singapura
Ideal membentuk negara dengan sentralisasi pada pergerakan kota (Polis) mungkin klasik dan ketinggalan jaman. Yang hanya membaca dan mengerti sepintas di permukaan boleh jadi akan mengatakan bahwa ini ideal Aristotelian dan Platonik yang sudah jauh dari perhatian, karena selain kadaluarsa dan tidak bisa in dalam klik pemerintahan post-modern, ideal ini juga seakan dipaksakan, apalagi di tengah masyarakat yang kian hari kian acuh terhadap pemerintahan yang ada dan dikembangkan.
Tapi mungkin baik kalau sedikit pandangan dilemparkan ke batas Barat-Utara Indonesia. Yah, Singapura. Negara kecil ini telah membuktikan kepada dunia bahwa tanpa kecukupan bahan baku, potensi energi yang minim bahkan untuk sepuluh tahun ke depan akan benar-benar berada dalam garis energi yang apa adanya, akan tetapi Singapura eksis di lingkup Asia Tenggara bahkan Asia sebagai salah satu negara yang mampu menunjukkan taringnya.
Genealogi negara ini memang dengan sendirinya harus memilih bentuk negara-kota, karena selain topografi dan demografinya menuntut demikian, kompleksitas persoalan di Singapura, khususnya persoalan sosial memiliki pusat bidik yang lain. Bandingkan dengan Indonesia yang harus terus berkutat pada persoalan sosial-urban, kemiskinan, pun soal-soal patologis lainnya di lingkup birokrasi.
Salah satu hal yang membuat Singapura unggul adalah keterbukaan pemimpinan negara ini untuk merangkul kalangan swasta profesional dalam manajemen pemerintahan yang ultra-modern. Negera dijalankan dengan metode profesional nan sederhana. Ada titik-titik pergerakan khas kaum profesional yang memperoleh sokongan maksimal dalam pemerintah. Yang lebih banyak bekerja adalah agen-agen negara yang pakar di bidangnya. negara/pemerintah mengambil posisi sebagai owner (principal) yang mempekerjakan kelompok profesional non-pemerintahan (agent) serentak masuk dalam kontrak kerja yang profesional sejak perencanaan hingga evaluasi.
Tidak heran, dalam dua puluh tahun terakhir Singapura menjadi raksasa kecil (little giant) Asia Tenggara dengan sistem pendidikan terbaik (satu-satunya negara Asia Tenggara yang dua universitasnya masuk dalam 100 terbaik), angka pendidikan yang tertinggi (rata-rata 5.5 Doktor dari 10 penduduk), dan yang paling penting, Singapura adalah negara Asia Tenggara dengan pendapatan perkapita tertinggi serta indeks kesejahteraan tertinggi bahkan nomor dua di Asia setelah Jepang. Singapura menggusur China ke posisi ketiga pada pertengahan 2010 yang lalu.
Esensi Negara Kota
Mengembangkan negara kota mengandaikan keterbukaan pada inovasi, dan kecakapan mengadaptasikan perkembangan. Satu contoh kecil, Singapura berani bermain keras pada tataran ekonomi dengan membuka pusat judi terbesar di Pulau Sentosa (untuk menguatkan pulau ini ekspansi pulau menggunakan pasir asal Indonesia). Singapura mendirikan pusat judi melulu karena mengetahui bahwa potensi tarung begitu besar ada di Indonesia dan Malaysia pun beberapa negara Indo-China. Dan sayangnya, Indonesia dan Malaysia senantiasa terbentur pada disposisi agamis yang dijalankan dengan ketat karena kultur islaminya. Nah, tidak heran permainan kesempatan ini membuat Singapura bisa mendongkrak 35 persen pendapatan per kapitanya dari sektor judi dan beberapa bisnis yang dinilai 'ilegal' di Indonesia dan Malaysia.
Negara kota selain menguatkan peran membaca peluang jaman (zeitgeist), juga senantiasa mengedepankan kompetisi dan kreativitas dalam inovasi dan penemuan-penemuan penting. Hal ini yang tidak pernah ditemukan di Indonesia, bukan hanya karena tidak adanya keberanian untuk mendobrak, melainkan karena sakit birokrasi yang sudah sedemikian parah. Dalam sebuah studi kebijakan, Singapura diapresiasi karena mampu memaksimalkan dan memotivasi para pekerja sipil dan swastanya hingga berprestasi rata-rata 125 persen dari target yang ditetapkan. Di Indonesia penggandaan PNS dari tahun ke tahun malah hanya menempatkan negara ini sebagai peraih 27 persen hasil dari cita-cita nasionalnya.
Sentralisasi yang coba diurai dalam strategi otonomi daerah juga ternyata hanya menjadi mainan para 'raja kecil' di daerah, bahkan untuk kasus khusus seperti OTSUS Papua hanya meninggalkan luka dari tahun ke tahun. Pemerintah daerah pada titik tertentu belum berani bermanuver, pun belum terlalu kuat untuk mengatakan 'tidak' pada intervensi pemerintah pusat.
Lihat saja potensi wisata dan laut NTT yang begitu luas hanya menjadi bahan wacana politik belaka dari tahun ke tahun. Karakteristik wilayah dicampuradukkan dengan tidak jelas. Tidak ada yang berani melakukan penghancuran sistem (rule-breaking) yang mampu memberi ruang bagi implementasi tata-cara dan tata-nilai yang baru (rule-making). Mengapa pembangunan di Timor misalnya tidak terarah untuk menjadikan Timor identik dengan ternak? Konsentrasi pembangunan ternak mungkinkah dilokaliasasi di Timor? Atau mengapa kawasan pesisir Rote Ndao yang eksotis tidak menjadi sentra pengembangan wisata NTT yang melulu menjual Pulau Komodo, padahal komodo sebagai spesies yang butuh ketenangan akan terancam dengan trik manis para pengelola wisata?
Dan NTT?
Mengembangkan negara kota di NTT mengandaikan adanya kesiapan pemerintah dalam membangun dialog (bisa dibaca mendengarkan) apa yang disampaikan kelompok-kelompok profesional. Pemerintah tidak pantas untuk terus berada di bawah tempurung untuk menonton kekayaan NTT dicuri dan dibawa keluar. Pemerintah perlu membuka diri terhadap hasil-hasil studi yang mendukung perkembangan NTT khususnya membangun kultur kemitraan dengan kalangan profesional, bukan sekadar menguliahkan ribuan penduduk NTT ber-NIP untuk menaikkan gaji pokok mereka serentak mematikan inovasi dan kreativitas di NTT. Pemerintah perlu jeli menggunakan indikator yang transparan dan profesional dalam mengejawantahkan kebijakan yang benar-benar merakyat.
Mengapa pemerintah NTT masih terbawa arus permainan Jakarta untuk tidak melegalkan misalnya perjudian yang resmi dan berkelas profesional di wilayah ini, sedangkan judi itu sendiri adalah salah satu entitas kultural yang ada dan hidup di dalam sekian banyak suku di NTT. Mengapa tidak pernah ada kajian tentang pengembangan perjudian? Sementara judi terus dihidupi secara ilegal di tengah masyarakat. Mengapa uang rakyat NTT dalam kupon-kupon putih harus terbang dan menggunung di gudang harta para bandar besar di Singapura?
NTT bisa menjadi proto-tipe negara kota dengan keterbukaan untuk mengenal potensi dan kearifan lokal daerah. NTT bisa menjadi contoh untuk Indonesia bukan terus-menerus mencontohi Jawa, dll dalam studi banding dan kunjungan kerja yang hanya menghabiskan anggaran. Sangat realistis kalau Timor menjadi negara ternak, Flores menjadi negara hasil bumi, eko-wisata dan lain sebagainya. Atau dalam konteks yang lebih kecil misalnya mengapa hanya ada satu 'lokalisasi' resmi yang miring konotasinya di Barat Kupang sana? Mungkinkah lokalisasi wisata, lokalisasi pertanian, peternakan, kelautan dibangun dengan keberanian pemerintah? Bukan tidak mungkin pusat judi resmi yang berkiblat pada rakyat kecil, miskin dan bersengsara sebagai owner resmi kepulauan NTT.
Tapi mungkin baik kalau sedikit pandangan dilemparkan ke batas Barat-Utara Indonesia. Yah, Singapura. Negara kecil ini telah membuktikan kepada dunia bahwa tanpa kecukupan bahan baku, potensi energi yang minim bahkan untuk sepuluh tahun ke depan akan benar-benar berada dalam garis energi yang apa adanya, akan tetapi Singapura eksis di lingkup Asia Tenggara bahkan Asia sebagai salah satu negara yang mampu menunjukkan taringnya.
Genealogi negara ini memang dengan sendirinya harus memilih bentuk negara-kota, karena selain topografi dan demografinya menuntut demikian, kompleksitas persoalan di Singapura, khususnya persoalan sosial memiliki pusat bidik yang lain. Bandingkan dengan Indonesia yang harus terus berkutat pada persoalan sosial-urban, kemiskinan, pun soal-soal patologis lainnya di lingkup birokrasi.
Salah satu hal yang membuat Singapura unggul adalah keterbukaan pemimpinan negara ini untuk merangkul kalangan swasta profesional dalam manajemen pemerintahan yang ultra-modern. Negera dijalankan dengan metode profesional nan sederhana. Ada titik-titik pergerakan khas kaum profesional yang memperoleh sokongan maksimal dalam pemerintah. Yang lebih banyak bekerja adalah agen-agen negara yang pakar di bidangnya. negara/pemerintah mengambil posisi sebagai owner (principal) yang mempekerjakan kelompok profesional non-pemerintahan (agent) serentak masuk dalam kontrak kerja yang profesional sejak perencanaan hingga evaluasi.
Tidak heran, dalam dua puluh tahun terakhir Singapura menjadi raksasa kecil (little giant) Asia Tenggara dengan sistem pendidikan terbaik (satu-satunya negara Asia Tenggara yang dua universitasnya masuk dalam 100 terbaik), angka pendidikan yang tertinggi (rata-rata 5.5 Doktor dari 10 penduduk), dan yang paling penting, Singapura adalah negara Asia Tenggara dengan pendapatan perkapita tertinggi serta indeks kesejahteraan tertinggi bahkan nomor dua di Asia setelah Jepang. Singapura menggusur China ke posisi ketiga pada pertengahan 2010 yang lalu.
Esensi Negara Kota
Mengembangkan negara kota mengandaikan keterbukaan pada inovasi, dan kecakapan mengadaptasikan perkembangan. Satu contoh kecil, Singapura berani bermain keras pada tataran ekonomi dengan membuka pusat judi terbesar di Pulau Sentosa (untuk menguatkan pulau ini ekspansi pulau menggunakan pasir asal Indonesia). Singapura mendirikan pusat judi melulu karena mengetahui bahwa potensi tarung begitu besar ada di Indonesia dan Malaysia pun beberapa negara Indo-China. Dan sayangnya, Indonesia dan Malaysia senantiasa terbentur pada disposisi agamis yang dijalankan dengan ketat karena kultur islaminya. Nah, tidak heran permainan kesempatan ini membuat Singapura bisa mendongkrak 35 persen pendapatan per kapitanya dari sektor judi dan beberapa bisnis yang dinilai 'ilegal' di Indonesia dan Malaysia.
Negara kota selain menguatkan peran membaca peluang jaman (zeitgeist), juga senantiasa mengedepankan kompetisi dan kreativitas dalam inovasi dan penemuan-penemuan penting. Hal ini yang tidak pernah ditemukan di Indonesia, bukan hanya karena tidak adanya keberanian untuk mendobrak, melainkan karena sakit birokrasi yang sudah sedemikian parah. Dalam sebuah studi kebijakan, Singapura diapresiasi karena mampu memaksimalkan dan memotivasi para pekerja sipil dan swastanya hingga berprestasi rata-rata 125 persen dari target yang ditetapkan. Di Indonesia penggandaan PNS dari tahun ke tahun malah hanya menempatkan negara ini sebagai peraih 27 persen hasil dari cita-cita nasionalnya.
Sentralisasi yang coba diurai dalam strategi otonomi daerah juga ternyata hanya menjadi mainan para 'raja kecil' di daerah, bahkan untuk kasus khusus seperti OTSUS Papua hanya meninggalkan luka dari tahun ke tahun. Pemerintah daerah pada titik tertentu belum berani bermanuver, pun belum terlalu kuat untuk mengatakan 'tidak' pada intervensi pemerintah pusat.
Lihat saja potensi wisata dan laut NTT yang begitu luas hanya menjadi bahan wacana politik belaka dari tahun ke tahun. Karakteristik wilayah dicampuradukkan dengan tidak jelas. Tidak ada yang berani melakukan penghancuran sistem (rule-breaking) yang mampu memberi ruang bagi implementasi tata-cara dan tata-nilai yang baru (rule-making). Mengapa pembangunan di Timor misalnya tidak terarah untuk menjadikan Timor identik dengan ternak? Konsentrasi pembangunan ternak mungkinkah dilokaliasasi di Timor? Atau mengapa kawasan pesisir Rote Ndao yang eksotis tidak menjadi sentra pengembangan wisata NTT yang melulu menjual Pulau Komodo, padahal komodo sebagai spesies yang butuh ketenangan akan terancam dengan trik manis para pengelola wisata?
Dan NTT?
Mengembangkan negara kota di NTT mengandaikan adanya kesiapan pemerintah dalam membangun dialog (bisa dibaca mendengarkan) apa yang disampaikan kelompok-kelompok profesional. Pemerintah tidak pantas untuk terus berada di bawah tempurung untuk menonton kekayaan NTT dicuri dan dibawa keluar. Pemerintah perlu membuka diri terhadap hasil-hasil studi yang mendukung perkembangan NTT khususnya membangun kultur kemitraan dengan kalangan profesional, bukan sekadar menguliahkan ribuan penduduk NTT ber-NIP untuk menaikkan gaji pokok mereka serentak mematikan inovasi dan kreativitas di NTT. Pemerintah perlu jeli menggunakan indikator yang transparan dan profesional dalam mengejawantahkan kebijakan yang benar-benar merakyat.
Mengapa pemerintah NTT masih terbawa arus permainan Jakarta untuk tidak melegalkan misalnya perjudian yang resmi dan berkelas profesional di wilayah ini, sedangkan judi itu sendiri adalah salah satu entitas kultural yang ada dan hidup di dalam sekian banyak suku di NTT. Mengapa tidak pernah ada kajian tentang pengembangan perjudian? Sementara judi terus dihidupi secara ilegal di tengah masyarakat. Mengapa uang rakyat NTT dalam kupon-kupon putih harus terbang dan menggunung di gudang harta para bandar besar di Singapura?
NTT bisa menjadi proto-tipe negara kota dengan keterbukaan untuk mengenal potensi dan kearifan lokal daerah. NTT bisa menjadi contoh untuk Indonesia bukan terus-menerus mencontohi Jawa, dll dalam studi banding dan kunjungan kerja yang hanya menghabiskan anggaran. Sangat realistis kalau Timor menjadi negara ternak, Flores menjadi negara hasil bumi, eko-wisata dan lain sebagainya. Atau dalam konteks yang lebih kecil misalnya mengapa hanya ada satu 'lokalisasi' resmi yang miring konotasinya di Barat Kupang sana? Mungkinkah lokalisasi wisata, lokalisasi pertanian, peternakan, kelautan dibangun dengan keberanian pemerintah? Bukan tidak mungkin pusat judi resmi yang berkiblat pada rakyat kecil, miskin dan bersengsara sebagai owner resmi kepulauan NTT.
Monday, December 26, 2011
Tuhan tidak pernah capai
Apakah Tuhan tidak pernah bosan, tiap saat Dia yang Agung itu harus turun ke dunia, dan naik ke Surga? Demikian pertanyaan seorang anak kepada orang tuanya dalam cerita inspiratif yang saya dengar beberapa waktu lalu. Yah, Tuhan tidak pernah bosan apalagi capai dalam mengunjungi dan melawati umatnya dan untuk itu juga, merayakan Natal dan Paskah Kristus setiap tahunnya adalah sesuatu yang wajib bagi umat Kristen di mana saja. Natal adalah saat manusia sadar bahwa dalam kelemahannya yang mengambil rupa hina manusia Allah menjadi solider dan berbagi “sakit dan derita” dengan manusia.
Refleksi Natal saya kali ini bernilai hambar karena mungkin sama seperti Yunus, hampir seluruh hidup saya adalah protes keras terhadap kerangka mapan yang diciptakan entah oleh siapa. Menjadi manusia itu harus begini, harus begitu, harus pakai ini, harus pakai itu, harus ke sana, harus ke situ. Yah, saya mungkin Yunus yang menolak untuk hadir di Ninive-Ninive yang lainnya. Saya manusia, kecil dan sangat kecil dan tidak ada apa-apanya di dunia ini, namun tiba-tiba ada rasa bangga, ketika tahu bahwa Dia yang Agung itu datang jauh-jauh dari Surga di Atas sana hanya untuk mencari dan berbicara dengan saya, keren kan? Dan itu juga yang membuat saya diam sejenak di depan lobi dek II tempat saya bekerja untuk beberapa bulan ini, sekadar menikmati sajian musik bernuansa Natal, mengucapkan sedikit doa dan akhirnya seperti biasa menikmati sajian Christmas toast yang tentunya gratis.
Yah, Tuhan tidak pernah capai mendatangi dan terus mendatangi manusia yang selalu berlari jauh meninggalkanNya. Tuhan tidak pernah capai mendatangi dan mengunjungi manusia. Ia bahkan tidak pernah sekalipun tertidur untuk manusia, berkedip sesaat pun tidak. Mata-Nya selalu mengawasi semua yang saya lakukan, semua keburukan yang saya tenun dalam lembar kehidupan saya, pun sedikit kebaikan yang saya torehkan di sisi setiap keburukan. Tuhan tidak pernah capai untuk saya dan kamu, untuk kita semua, siapapun anda, karena itu Ia menyuguhkan damai sepanjang masa dalam kelahiranNya yang sederhana dan unik.
“Anda bukan Kristen, mengapa anda ikut merayakan Natal?” tanya saya pada salah seorang yang menurut Aleks tidak mau ambil pusing dengan kepercayaan apa saja. “Natal itu damai dan semuanya bisa merayakan damai itu. Tidak ada yang dilarang, bukan karena saya a-Theis atau bukan. Saya manusia. Dan lagian birnya gratis, hehe,” jawabnya.
Sebelum Natal ini pergi, saya titip salam Natal untuk semua saja yang pernah mengenal saya, yang sempat dekat dengan saya. Bapa, mama, saudara/i semua nun jauh di sana. Saya berdosa, penuh keburukan, namun doa dan bantuanmu semua tetap saya butuhkan untuk melanjutkan pembicaraan saya yang tertunda dengan Tuhan yang tidak pernah capai ini. Dengan Dia yang menguasai lautan, hutan, gunung, lembah dan jalanan. Bapa dan Mama jangan pernah berhenti untuk doakan saya.
Untuk saudara-saudara saya di Malang, Mas Hen, Elco, Feris, Toty, Bren, Tony, BD, Om Nana, Om Fany, Omar, Anggi, dll selamat Natal dan sukses selalu dalam hangatnya palungan Betlehem, Dia tidak pernah berkedip untuk kita. Tidak pernah sekalipun.
Untuk bros semua di Jogja, Unu Ruben Paineon, Eman Bano, Om John Manhitu, Mas Danto, Freddy Oki, Frid Dari, Dhosa DD, dan semua saja yang (Saya mohon maaf) tidak bisa saya sebut satu-per-satu, salam Natal juga. Hidup yang singkat ini terlalu indah dalam tatapan Dia yang terus menatap kita dengan kasih dan damai-Nya.
Di Jakarta, untuk Inyo (The Belis Imamat), Om Sam Babys, Lipus, Edy Obe, Us, Lovick, Bobby, Luis, Randy, Charles dan akhirnya untuk semua saudara saya di mana saja, bro terima kasih untuk semua yang kalian berikan untuk saya. Kalian adalah harga mati dari kunjungan dan tatapan-Nya. Keindahan ini tidak pantas untuk disia-siakan. Semoga kita bisa bertemu lagi. *Inyo, Unu, Edy, Elco, BD kalau sempat membaca tulisan ini semoga masih ada Natal yang lain yang membuat kita hangat dalam kasih mesra Allah yang Agung pun mungkin sebotol-dua Heinekken yang berbusa indah ini. Mohon maaf dan Salam Natal.
After Christmas Toast on Dek II
Refleksi Natal saya kali ini bernilai hambar karena mungkin sama seperti Yunus, hampir seluruh hidup saya adalah protes keras terhadap kerangka mapan yang diciptakan entah oleh siapa. Menjadi manusia itu harus begini, harus begitu, harus pakai ini, harus pakai itu, harus ke sana, harus ke situ. Yah, saya mungkin Yunus yang menolak untuk hadir di Ninive-Ninive yang lainnya. Saya manusia, kecil dan sangat kecil dan tidak ada apa-apanya di dunia ini, namun tiba-tiba ada rasa bangga, ketika tahu bahwa Dia yang Agung itu datang jauh-jauh dari Surga di Atas sana hanya untuk mencari dan berbicara dengan saya, keren kan? Dan itu juga yang membuat saya diam sejenak di depan lobi dek II tempat saya bekerja untuk beberapa bulan ini, sekadar menikmati sajian musik bernuansa Natal, mengucapkan sedikit doa dan akhirnya seperti biasa menikmati sajian Christmas toast yang tentunya gratis.
Yah, Tuhan tidak pernah capai mendatangi dan terus mendatangi manusia yang selalu berlari jauh meninggalkanNya. Tuhan tidak pernah capai mendatangi dan mengunjungi manusia. Ia bahkan tidak pernah sekalipun tertidur untuk manusia, berkedip sesaat pun tidak. Mata-Nya selalu mengawasi semua yang saya lakukan, semua keburukan yang saya tenun dalam lembar kehidupan saya, pun sedikit kebaikan yang saya torehkan di sisi setiap keburukan. Tuhan tidak pernah capai untuk saya dan kamu, untuk kita semua, siapapun anda, karena itu Ia menyuguhkan damai sepanjang masa dalam kelahiranNya yang sederhana dan unik.
“Anda bukan Kristen, mengapa anda ikut merayakan Natal?” tanya saya pada salah seorang yang menurut Aleks tidak mau ambil pusing dengan kepercayaan apa saja. “Natal itu damai dan semuanya bisa merayakan damai itu. Tidak ada yang dilarang, bukan karena saya a-Theis atau bukan. Saya manusia. Dan lagian birnya gratis, hehe,” jawabnya.
Sebelum Natal ini pergi, saya titip salam Natal untuk semua saja yang pernah mengenal saya, yang sempat dekat dengan saya. Bapa, mama, saudara/i semua nun jauh di sana. Saya berdosa, penuh keburukan, namun doa dan bantuanmu semua tetap saya butuhkan untuk melanjutkan pembicaraan saya yang tertunda dengan Tuhan yang tidak pernah capai ini. Dengan Dia yang menguasai lautan, hutan, gunung, lembah dan jalanan. Bapa dan Mama jangan pernah berhenti untuk doakan saya.
Untuk saudara-saudara saya di Malang, Mas Hen, Elco, Feris, Toty, Bren, Tony, BD, Om Nana, Om Fany, Omar, Anggi, dll selamat Natal dan sukses selalu dalam hangatnya palungan Betlehem, Dia tidak pernah berkedip untuk kita. Tidak pernah sekalipun.
Untuk bros semua di Jogja, Unu Ruben Paineon, Eman Bano, Om John Manhitu, Mas Danto, Freddy Oki, Frid Dari, Dhosa DD, dan semua saja yang (Saya mohon maaf) tidak bisa saya sebut satu-per-satu, salam Natal juga. Hidup yang singkat ini terlalu indah dalam tatapan Dia yang terus menatap kita dengan kasih dan damai-Nya.
Di Jakarta, untuk Inyo (The Belis Imamat), Om Sam Babys, Lipus, Edy Obe, Us, Lovick, Bobby, Luis, Randy, Charles dan akhirnya untuk semua saudara saya di mana saja, bro terima kasih untuk semua yang kalian berikan untuk saya. Kalian adalah harga mati dari kunjungan dan tatapan-Nya. Keindahan ini tidak pantas untuk disia-siakan. Semoga kita bisa bertemu lagi. *Inyo, Unu, Edy, Elco, BD kalau sempat membaca tulisan ini semoga masih ada Natal yang lain yang membuat kita hangat dalam kasih mesra Allah yang Agung pun mungkin sebotol-dua Heinekken yang berbusa indah ini. Mohon maaf dan Salam Natal.
After Christmas Toast on Dek II
Dan Akhirnya Saya Tahu, Uang Indonesia Ada di Sini
Sedikit mabuk laut, yah itu yang saya alami, bukan karena harus mabuk laut. Saya sudah menyeberang dengan menggunakan kapal sejak 2003. Namun, ini mabuk yang distimulasi beberapa botol minuman berkadar alkohol rendah sebagai bagian dari sedikit support manajemen untuk kami kelas pekerja ketika akan meninggalkan area Nusantara. Saya dan Aleks menyelesaikan kurang lebih 6 botol Heinekken (tentunya yang ini juga favorit saya dan Inyo, saudara terbaik saya) dan juga beberapa kaleng bir bintang.
Laut ini tetap sama, bukan milik siapa-siapa, dan siapa yang menyangka akhirnya karena ketamakan manusia, laut ini yang menyatukan seluruh benua serentak memisahkannya harus diberi tanda kepemilikan. Laut itu adalah sesuatu yang nyata yang sesungguhnya universal. Laut itu, adalah reflaksi tentang unifikasi tanpa syarat serentak disintegrasi yang total pula. Yah, 17 Desember 2011 kami meninggalkan Batam, kota dengan begitu banyak hal mahal menuju pemberhentian berikutnya, yang tentunya ini merupakan perjalanan pertama saya meninggalkan Nusantara.
Pulau Sentosa dan beberapa tempat di Singapura akan mengisi hari-hari kami. Saya hampir bebas tugas dalam etape ini, selain mengerjakan tugas-tugas ringan sesuai dengan instruksi pimpinan di dek kami. Aleks kebagian menemani ngobrol pun memberikan beberapa penjelasan seputar perjalanan kami kepada beberapa wisatawan Asean yang baru kali ini ikut dalam perjalanan ini.
Aleks tidak mengalami banyak hambatan, ini adalah perjalanannya yang ketiga sejak 2009. Saya bahkan menjadi tourist kali ini, karena hampir semua perjalanan pun tempat yang kami kunjungi selalu memperoleh informasi dari Aleks yang syukurlah tidak pelit dalam menjelaskan (makasih banyak bro).
Setelah tiba di Pulau Sentosa dalam beberapa jam perjalanan saya masih agak sedikit bingung karena mabuk apa yang sesungguhnya saya alami, hehehe. Kami kemudian langsung melepas sauh dan mengikuti arahan umum untuk mengambil sedikit waktu berjalan-jalan di pulau ini. Aleks melepas panduannya ke area privat yang juga bisa berarti dia berlibur untuk sementara waktu dan bisa langsung mengusung tugas menemani saya, hehe.
Kami mulai dengan petualangan kami dan tentunya inilah salah satu pusat judi terbesar di Singapura yang konon menurut penjelasan Aleks, tempat orang-orang Indonesia menghabiskan rupiah dalam bentuk lain. Tempat orang-orang kaya Indonesia membuang kekayaan ataupun mungkin menyimpan kekayaan Nusantara di tempat ini.
Saya teringat beberapa saat sebelum sampai, Aleks menegur saya yang mengatakan bahwa judi itu hanya milik orang yang memiliki duit, masyarakat kecil sudah hampir pasti tidak bisa berjudi. Aleks langsung mengatakan bahwa judi itu tidak memandang kaya dan miskin, dan justeru kadang-kadang yang berjudi itu kebanyakan adalah mereka yang dikategorikan miskin dan mau mengubah nasib dan peruntungannya secara instan.
Dia juga sempat menyentil bahwa kelompok terbesar yang berjudi di Indonesia adalah kelompok dengan tingkatan ekonomi menengah ke bawah. Judi sekali lagi tidak pernah memandang umur dan status sosial. Judi itu bukan milik orang kaya, melainkan milik semua yang mungkin secara psikologi sosial memiliki kedekatan dengan kuatnya daya-daya “nekat” yang melekat dalam tatanan masyarakat. Bahkan judi dalam arti lain adalah pertaruhan nilai hidup, harga diri maupun eksistensi seseorang. Di beberapa tempat, kualitas dan keunggulan seorang laki-laki misalnya ditentukan oleh sejauh mana ia bisa berjudi dengan hebat dan gemilang, bukan dengan keunggulan dan nilai-nilai lain yang dia capai.
Terlepas dari kontroversi dan definisi menyangkut judi, saya teringat maraknya judi kupon putih selama beberapa waktu di tempat asal saya. Yah, kalau mau jujur judi ini terbilang berumur panjang di tempat saya nun di Pulau Timor sana hanya karena ada “konspirasi abadi” antara pelaku tindak kriminal, dan semua yang berhubungan dengan penegakan hukum.
Ingatan dan juga kesadaran akan lemah dan rapuhnya tiang hukum di tempat saya ternyata punya koneksi langsung dengan tempat yang sementara kami kunjungi ini. Yah, beberapa bandar besar kupon putih, togel (lotto gelap) atau yang beberapa waktu lalu dikenal dengan SDSB atau PORKAS justeru sekarang bermarkas di Singapura dan beberapa bandar besar ternyata memiliki hunian maha-elite di pulau Sentosa.
Koneksi ini semakin membuat saya miris dan sedikit sakit hati. Hanya karena satu soal, mengapa judi? Mengapa lewat judi uang Indonesia yang dialokasikan untuk TTU ada yang hilang dan tertimbun di sini yang justeru dipakai untuk membangun begitu banyak item pembangunan yang mungkin sampai saya mati bakalan tidak pernah ada di TTU. Dan kupon putih itu sendiri bukanlah mainan para bos yang duduk melingkari meja-meja di casino di pulau yang juga ternyata dibangun dan dikokohkan dengan pasir dari kepualauan Riau.
Kupon putih menjadi mainan semua kelas masyarakat di TTU. Saya teringat salah seorang saudara saya mengatakan bahwa tidak akan ada orang Indonesia yang kaya karena judi, apalagi orang kecil dan tidak memiliki apa-apa. Namun, taring judi justeru menikam lebih dalam dan lebih kuat. Uang-uang TTU adalah uang-uang hebat, yang mampu membelah samudera dan melintasi deretan pegunungan, lembah dan hutan menuju surga para penjudi Asia Tenggara ini. Mereka menerjali kehidupan ini menuju ke pundi-pundi para bos yang mungkin hanya duduk diam dan tersenyum manis di depan tumpukan modal yang mereka mainkan hasil dari keringat orang-orang TTU.
Mungkin saya terlalu pongah kalau mengatakan bahwa semua uang yang dimainkan di sini berasal dari TTU yang hampir saja tidak dikenal oleh dunia. Saya tegaskan lagi, TTU adalah salah satu contoh, bahwa begitu banyak rakyat kecil yang hidup di daerah-daerah kecil lainnya di Indonesia sana telah keliru dalam memaknai kepapaannya jika mereka telah terjebak dalam perjudian dengan taruhan uang dan harta yang mungkin tidak banyak dimilikinya.
Berjudi untuk membentuk masa depan yang pasti, membentuk petualangan dan perlawanan purna terhadap hal-hal yang tidak mengenakan adalah sesuatu yang mungkin tidak dilarang, namun adalah sangat keliru jika uang yang tinggal seribu-dua dipakai hanya untuk membaca arti mimpi semalam dalam angka dan shio yang dipertaruhkan dan dipermainkan para bandar nun jauh di tempat sini. Jujur setelah beberapa waktu menikmati hawa negara kota (polis) Singapura, saya hampir tidak bisa berkata apa-apa karena hampir tidak ada orang miskin seperti saya di tempat ini.
Mungkin ini bagian dari kebahagiaan abadi mereka yang tingga di muara-muara uang, ketika arus kuat akibat terjangan kelompok besar proletar terasa begitu nyata. Terima kasih untuk kesadaran ini Ya Juru Nasib Yang Agung. Terima kasih karena pengalaman dan perjumpaan ini, teristimewa ketika saya sadar bahwa di sinilah uang-uang dari titik-titik keringat Indonesia akhirnya bermuara dan tertimbun menjadi apartemen, dan berbagai hunian kelas elite.
Di bawah bayang-bayang Merlion
“Mari Berjudi Saudara!!!”
Laut ini tetap sama, bukan milik siapa-siapa, dan siapa yang menyangka akhirnya karena ketamakan manusia, laut ini yang menyatukan seluruh benua serentak memisahkannya harus diberi tanda kepemilikan. Laut itu adalah sesuatu yang nyata yang sesungguhnya universal. Laut itu, adalah reflaksi tentang unifikasi tanpa syarat serentak disintegrasi yang total pula. Yah, 17 Desember 2011 kami meninggalkan Batam, kota dengan begitu banyak hal mahal menuju pemberhentian berikutnya, yang tentunya ini merupakan perjalanan pertama saya meninggalkan Nusantara.
Pulau Sentosa dan beberapa tempat di Singapura akan mengisi hari-hari kami. Saya hampir bebas tugas dalam etape ini, selain mengerjakan tugas-tugas ringan sesuai dengan instruksi pimpinan di dek kami. Aleks kebagian menemani ngobrol pun memberikan beberapa penjelasan seputar perjalanan kami kepada beberapa wisatawan Asean yang baru kali ini ikut dalam perjalanan ini.
Aleks tidak mengalami banyak hambatan, ini adalah perjalanannya yang ketiga sejak 2009. Saya bahkan menjadi tourist kali ini, karena hampir semua perjalanan pun tempat yang kami kunjungi selalu memperoleh informasi dari Aleks yang syukurlah tidak pelit dalam menjelaskan (makasih banyak bro).
Setelah tiba di Pulau Sentosa dalam beberapa jam perjalanan saya masih agak sedikit bingung karena mabuk apa yang sesungguhnya saya alami, hehehe. Kami kemudian langsung melepas sauh dan mengikuti arahan umum untuk mengambil sedikit waktu berjalan-jalan di pulau ini. Aleks melepas panduannya ke area privat yang juga bisa berarti dia berlibur untuk sementara waktu dan bisa langsung mengusung tugas menemani saya, hehe.
Kami mulai dengan petualangan kami dan tentunya inilah salah satu pusat judi terbesar di Singapura yang konon menurut penjelasan Aleks, tempat orang-orang Indonesia menghabiskan rupiah dalam bentuk lain. Tempat orang-orang kaya Indonesia membuang kekayaan ataupun mungkin menyimpan kekayaan Nusantara di tempat ini.
Saya teringat beberapa saat sebelum sampai, Aleks menegur saya yang mengatakan bahwa judi itu hanya milik orang yang memiliki duit, masyarakat kecil sudah hampir pasti tidak bisa berjudi. Aleks langsung mengatakan bahwa judi itu tidak memandang kaya dan miskin, dan justeru kadang-kadang yang berjudi itu kebanyakan adalah mereka yang dikategorikan miskin dan mau mengubah nasib dan peruntungannya secara instan.
Dia juga sempat menyentil bahwa kelompok terbesar yang berjudi di Indonesia adalah kelompok dengan tingkatan ekonomi menengah ke bawah. Judi sekali lagi tidak pernah memandang umur dan status sosial. Judi itu bukan milik orang kaya, melainkan milik semua yang mungkin secara psikologi sosial memiliki kedekatan dengan kuatnya daya-daya “nekat” yang melekat dalam tatanan masyarakat. Bahkan judi dalam arti lain adalah pertaruhan nilai hidup, harga diri maupun eksistensi seseorang. Di beberapa tempat, kualitas dan keunggulan seorang laki-laki misalnya ditentukan oleh sejauh mana ia bisa berjudi dengan hebat dan gemilang, bukan dengan keunggulan dan nilai-nilai lain yang dia capai.
Terlepas dari kontroversi dan definisi menyangkut judi, saya teringat maraknya judi kupon putih selama beberapa waktu di tempat asal saya. Yah, kalau mau jujur judi ini terbilang berumur panjang di tempat saya nun di Pulau Timor sana hanya karena ada “konspirasi abadi” antara pelaku tindak kriminal, dan semua yang berhubungan dengan penegakan hukum.
Ingatan dan juga kesadaran akan lemah dan rapuhnya tiang hukum di tempat saya ternyata punya koneksi langsung dengan tempat yang sementara kami kunjungi ini. Yah, beberapa bandar besar kupon putih, togel (lotto gelap) atau yang beberapa waktu lalu dikenal dengan SDSB atau PORKAS justeru sekarang bermarkas di Singapura dan beberapa bandar besar ternyata memiliki hunian maha-elite di pulau Sentosa.
Koneksi ini semakin membuat saya miris dan sedikit sakit hati. Hanya karena satu soal, mengapa judi? Mengapa lewat judi uang Indonesia yang dialokasikan untuk TTU ada yang hilang dan tertimbun di sini yang justeru dipakai untuk membangun begitu banyak item pembangunan yang mungkin sampai saya mati bakalan tidak pernah ada di TTU. Dan kupon putih itu sendiri bukanlah mainan para bos yang duduk melingkari meja-meja di casino di pulau yang juga ternyata dibangun dan dikokohkan dengan pasir dari kepualauan Riau.
Kupon putih menjadi mainan semua kelas masyarakat di TTU. Saya teringat salah seorang saudara saya mengatakan bahwa tidak akan ada orang Indonesia yang kaya karena judi, apalagi orang kecil dan tidak memiliki apa-apa. Namun, taring judi justeru menikam lebih dalam dan lebih kuat. Uang-uang TTU adalah uang-uang hebat, yang mampu membelah samudera dan melintasi deretan pegunungan, lembah dan hutan menuju surga para penjudi Asia Tenggara ini. Mereka menerjali kehidupan ini menuju ke pundi-pundi para bos yang mungkin hanya duduk diam dan tersenyum manis di depan tumpukan modal yang mereka mainkan hasil dari keringat orang-orang TTU.
Mungkin saya terlalu pongah kalau mengatakan bahwa semua uang yang dimainkan di sini berasal dari TTU yang hampir saja tidak dikenal oleh dunia. Saya tegaskan lagi, TTU adalah salah satu contoh, bahwa begitu banyak rakyat kecil yang hidup di daerah-daerah kecil lainnya di Indonesia sana telah keliru dalam memaknai kepapaannya jika mereka telah terjebak dalam perjudian dengan taruhan uang dan harta yang mungkin tidak banyak dimilikinya.
Berjudi untuk membentuk masa depan yang pasti, membentuk petualangan dan perlawanan purna terhadap hal-hal yang tidak mengenakan adalah sesuatu yang mungkin tidak dilarang, namun adalah sangat keliru jika uang yang tinggal seribu-dua dipakai hanya untuk membaca arti mimpi semalam dalam angka dan shio yang dipertaruhkan dan dipermainkan para bandar nun jauh di tempat sini. Jujur setelah beberapa waktu menikmati hawa negara kota (polis) Singapura, saya hampir tidak bisa berkata apa-apa karena hampir tidak ada orang miskin seperti saya di tempat ini.
Mungkin ini bagian dari kebahagiaan abadi mereka yang tingga di muara-muara uang, ketika arus kuat akibat terjangan kelompok besar proletar terasa begitu nyata. Terima kasih untuk kesadaran ini Ya Juru Nasib Yang Agung. Terima kasih karena pengalaman dan perjumpaan ini, teristimewa ketika saya sadar bahwa di sinilah uang-uang dari titik-titik keringat Indonesia akhirnya bermuara dan tertimbun menjadi apartemen, dan berbagai hunian kelas elite.
Di bawah bayang-bayang Merlion
“Mari Berjudi Saudara!!!”
Kota Termahal di Indonesia
Sepiring Nasi Ayam Padang, Segelas es teh dan sebungkus emping jagung dengan total Rp.45. 000 merupakan rekor makan termahal yang pernah saya alami di kota Indonesia yang bernama Batam. Kota yang lebih cocok saya sebut dengan Singapura kedua ini hampir tidak mencerminkan keramahan orang Indonesia sedikitpun.
Mungkin ada bagian yang murah bahkan gratisan, namun sayang saya terlanjur dikenalkan dengan beberapa layanan jasa yang lumayan mahal menurut saya. Tidak sama dengan beberapa tempat lain yang pernah saya datangi. Bali sedikit mahal, Jakarta memang katanya harus mahal, yang murah paling-paling hanya Yogyakarta dan juga yang paling murah adalah Malang.
Perputaran ekonomi yang begitu kuat dengan mobilisasi kapital di tempat ini tentunya punya dasar sendiri. Batam sendiri lebih merupakan tanah jauh yang jadi tempat hang out warga Singapura, Malaysia dan beberapa negara Asean lainnya. Standar untuk “Bule” mata sipit cenderung dipakai juga untuk semua dan siapa saja yang datang ke tempat ini termasuk saya dan Aleks tentunya. Yah, ini pengalaman kami dan semoga saja siapapun kalian yang berkunjung dan datang ke Batam bisa mengantisipasi hal ini.
Apapun yang kami alami di tempat ini, inilah Indonesia yang senantiasa menyuguhkan sebuah sensasi dan suasana yang asyk bagi semua yang mau akrab dengan Nusantara ini. Semua kota tidak perlu sama murah, semua kota tidak perlu sama mahal. Semua kota tidak perlu sama, karena dasar negara ini adalah keberagaman yang disatukan dalam semangat Bhineka Tunggal Ika. I Love Indonesia.
Syukurlah masih ada beberapa retail kecil yang harganya sama seperti harga kebanyakan retail di kota-kota Indonesia. Dan, saya masih bisa membeli beberapa bungkus Gudang Garam Internasional sebagai bekal dan persediaan saya di terjangan ombak dan gelombang berikutnya. My Life, My Adventure, always with my everlasting Filter, hehe
Mungkin ada bagian yang murah bahkan gratisan, namun sayang saya terlanjur dikenalkan dengan beberapa layanan jasa yang lumayan mahal menurut saya. Tidak sama dengan beberapa tempat lain yang pernah saya datangi. Bali sedikit mahal, Jakarta memang katanya harus mahal, yang murah paling-paling hanya Yogyakarta dan juga yang paling murah adalah Malang.
Perputaran ekonomi yang begitu kuat dengan mobilisasi kapital di tempat ini tentunya punya dasar sendiri. Batam sendiri lebih merupakan tanah jauh yang jadi tempat hang out warga Singapura, Malaysia dan beberapa negara Asean lainnya. Standar untuk “Bule” mata sipit cenderung dipakai juga untuk semua dan siapa saja yang datang ke tempat ini termasuk saya dan Aleks tentunya. Yah, ini pengalaman kami dan semoga saja siapapun kalian yang berkunjung dan datang ke Batam bisa mengantisipasi hal ini.
Apapun yang kami alami di tempat ini, inilah Indonesia yang senantiasa menyuguhkan sebuah sensasi dan suasana yang asyk bagi semua yang mau akrab dengan Nusantara ini. Semua kota tidak perlu sama murah, semua kota tidak perlu sama mahal. Semua kota tidak perlu sama, karena dasar negara ini adalah keberagaman yang disatukan dalam semangat Bhineka Tunggal Ika. I Love Indonesia.
Syukurlah masih ada beberapa retail kecil yang harganya sama seperti harga kebanyakan retail di kota-kota Indonesia. Dan, saya masih bisa membeli beberapa bungkus Gudang Garam Internasional sebagai bekal dan persediaan saya di terjangan ombak dan gelombang berikutnya. My Life, My Adventure, always with my everlasting Filter, hehe
Thursday, December 22, 2011
KARTAPEL
Ada yang menyebutnya ketapel, katapel, kartupel, kartapel, yah apapun sebutannya, saya pikir mungkin Kamus Umum Bahasa Indonesia juga bisa salah dalam menentukan mana format baku dari kata ini, jika ia harus diambil dari bahasa sehari-hari. Dan mungkin di depan alat (bisa baca senjata) ini, orang tidak akan mementingkan seberapa baku dan umum dan benar dan sesuai kaidah. Alat ini sudah cukup membahasakan bahwa hampir sebagian besar anak lelaki Indonesia yang baru beranjak ke usia belasan tahun sebelum dekade 1990, atau 1990 ke bawah pasti pernah dekat dengan benda ini.
Segitiga bermuda, Golden triangle, segitiga emas, atau apapun istilahnya untuk tempat di antara tiga sudut yang katanya indah di dekat Hawai, pasifik sana mungkin hanya merupakan mimpi untuk saya dan sebagian besar orang. Namun, membayangkan kartapel yang dilingkar di kepala anak-anak Timor atau yang diselipkan di kantung celana, adalah hal yang sangat membekas dan tidak mungkin bisa saya lupakan. Yah, senjata dengan kekuatan kinetis yang bekerja akibat adanya kelenturan dari alat pegas ini merupakan salah satu senjata jarak dekat yang dibawa para penggembala sapi di Timor, atau mereka yang bertugas mengawal ladang dan sawah dari serangan burung pipit yang terkadang kelewatan nakal. Jika banyak orang membanggakan Segitiga bermuda yang besar itu, saya masih setia dengan kenangan saya akan kartapel, dari rangka jambu muda yang dilenturkan dekat tungku api, dikeringkan dan diberi lapisan karet gelang, plus sepotong kulit sebagai tempat diam batu, plastik, atau buah-buahan pohon atau benda seukuran kelereng apa saja yang nantinya menjadi peluru.
Yah kartapel dekat juga dengan istilah “fiti”. Sorry yang terakhir ini bukan nama orang atau nama tempat di Timor. Ini adalah istilah yang sering dipakai ketika seseorang menggunakan kartapel, dengan kata lain lain, “fiti” adalah kata kerja yang berarti aktivitas menggunakan kartapel. Fiti burung misalnya, membuat satu tembakan ke arah burung dengan kartapel. Fiti burung juga bisa berarti aktivitas total memburu burung dengan kartapel, sejak keluar rumah hingga pulang kembali ke rumah, dengan atau tidak dengan hasil buruan. Begitu banyak spesies burung di Timor yang masuk dalam keterpenjaraan akibat garis Weber dan Wallace dalam zoning wilayah fauna dan flora di Indonesia menjadikan “fiti burung” sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan di Timor, serentak sebagai bagian dari pembuktian status dan posisi seorang anak lelaki yang baru beranjak dewasa.
Warga Timor bukan tidak mencintai lingkungan, kesadaran dan tingkat pengetahuan pun mungkin penganak-tirian yang diterima selama sekian tahun dari negara ini membuat koleksi spesies burung sebagai salah satu aset laboratorium alam diabaikan begitu saja, jangankan burung, kerbau liar, rusa, babi hutan, monyet dan beberapa penghuni hutan lainnya senantiasa menjadi incaran warga pulau Timor selain Cendana sebagai salah satu komoditas ekspor sejak jaman dulu. Aturan yang dipaksakan dan dicekoki ke dalam pemikiran yang tidak mau “diluaskan” oleh diktator-diktator Indonesia sejak merdeka hingga kini, membuat warga Timor tidak pantas disalahkan total dalam hal ini. Seperti pembuat perundangan yang tak (pernah) melibatkan masyarakat, pelanggaran melulu bukan karena tidak mau tahu aturan, melainkan karena tidak ada komunikasi dan sosialisasi yang beradab, yang manusiawi dan yang sesuai dengan identitas kultural dan karakteristik warga Timor.
Ok, kita kembali ke kartapel. Sama seperti kebanyakan entitas filosofis lainnya, kartapel bisa ditinjau dari berbagai perspektif. Di atas goncangan gelombang yang menjadi buaian nikmat di malam ini, saya coba membedahnya bersama beberapa batang gudang garam international yang masih tersisa dalam pelayaran ini. Berikut beberapa titik telaah mengenai kartapel.
Dari disiplin matematika/fisika, tentunya kartapel harus diteliti dari kekuatan energi kinetik manusia yang bisa melahirkan gerak maju batu, dari titik awal, dalam kecepatan tertentu, percepatan, hingga di kecepatan puncak, kemudian mungkin perlambatan, dan juga seberapa kuat hantaman yang bisa langsung mematikan. Atau perhitungan mengenai ketepatan sudut segitiga sama kaki yang cenderung memiliki tinggi dua atau tiga kali lipat dari sisi alas. Oiya, kartapel memiliki keunikan lain, ruas-ruas sisinya merupakan kebalikan dari sebuah segitiga. Penghitungannya menggunakan jalur inverse.
Masih berhubungan dengan hal di atas, ilmu Biologi dan Kimia mungkin bisa meneliti sejauh mana hantaman batu yang dilesakkan dari sebuah kartapel bisa menghancurkan fungsi-fungsi vital seekor burung dan membuatnya mati. Pun mungkin kekuatan ranting pohon jambu dan beberapa jenis pohon lainnya yang biasa dipakai sebagai kerangka kartapel, enzim pertumbuhan apa yang bisa membuat pohon jambu yang sering dipilih, dan mengapa proses pemanasan dengan api bisa membuat sedikit lentur batang jambu muda untuk kemudian diproses menjadi rangka kartapel, yang sering disebut “cabang.”
Dari segi disiplin humaniora semisal psikologi dan sosiologi. Para psikolog mungkin bisa mengukur sejauh mana EQ seorang anak lelaki usia belasan tahun pun mungkin sejak delapan atau sembilanan tahun yang tangkas dalam menggunakan senjata yang tidak pernah dilarang dalam pasal-pasal KUHAP ini bisa berkembang dan maksimal. Atau bagaimana dengan anak-anak yang tidak mahir menggunakan kartapel dan berada di komunitas pecinta kartapel.
Dari segi sosiologi dan budaya, efek komunal yang ditimbulkan di kalangan anak-anak Timor yang begitu kuat dimunculkan oleh senjata ini seperti apa? Mengapa anak-anak Pulau Timor dari Timur ke Barat atau dari Utara ke Selatan yang tidak mengenal satu sama lain bisa bersatu sebagai pemakai dan penikmat kartapel. Dan bagaimana kartapel bisa tergusur oleh kehadiran gadget-gadget modern semisal ratusan varian internet dan sebagainya. Di jaman kartapel menguasai pola hidup dan keseharian para gembala kecil dan joki-joki kecil yang bertelanjang kaki tidak pernah ada aksi persetubuhan anak-anak bawah umur, namun sejak warnet marak di kota kelahiran saya, sempat terdengar beberapa kejadian tak senonoh yang tentunya melibatkan dengan sangat langsung anak-anak di bawah umur.
Dari segi agama dan kepercayaan, kebetulan sejarah kelahiran dan perkembangan agama-agama mulai dari purba hingga modern banyak yang menyenggol unsur trinitaris. Lihat saja Tiga Dewa Agung sembahan saudara-saudara Hindu, Brahma, Shiva dan Vishnu, atau aliran kepercayaan Kristen (Katolik) dengan ajaran Tritunggalnya. Kartapel memiliki keterjalinan tiga batang yang senantiasa terhubung satu sama lain, yang tidak akan berfungsi baik jika salah satunya hilang, rusak, patah atau mengalami disfungsi. Begitu juga dengan spiritualitas komunikasi antara pemerintah, penerus budaya dan tokoh-tokoh agama sebagaimana analogi tiga batu tungku, bagaimana kartapel bisa masuk dan membantu mencerahkan masyrakat agamis dari sisi ini. Pernah ada cerita biblis yang mengisahkan bahwa Goliath sang raksasa dikalahkan Daud/David hanya dengan kartapel.
Nah masih berhubungan dengan hal di atas, apakah selama ini sudah ada penelusuran lebih jauh tentang sejarah kartapel dalam historisitas manusia, khususnya siapa yang pertama kali menciptakan atau mungkin membawa masuk kartapel ke Timor? Kartapel bisa menjadi dasar penelusuran sejarah, perkembangan seni perang dan pertahanan, atau juga wahana pembelajaran mengenai petarung-petarung (tentunya dalam level yang bisa dimengerti) Timor yang merimba di setiap saat hidupnya.
Dari sisi kesehatan, tentunya struktur anatomi tubuh manusia khususnya tulang, otot dan sel saraf bisa diteliti jika kartapel digunakan baik secara benar maupun secara keliru. Atau dari sudut pandang olah raga, bagaimana kartapel bisa membantu menguatkan otot bisep dan trisep, akurasi pandangan mata, kecakapan tangan dan posisi kuda-kuda pemegang kartapel saat berdiri.
Pun berbagai keunikan lainnya yang bisa ditelusuri jika ada kehendak kuat untuk membuat riset-riset kecil, murah namun bisa membahasan yang luas tentang masyarakat Timor secara holistis. Mungkin bisa ada film, novel, cerpen, puisi atau roman tentang kartapel.
Di negeri antah-barantah ini, saya mengingat bagaimana nafas-nafas bisa ditangguhkan sejenak, aliran darah dipaksa berhenti sejenak, dan semua itu baru dijalankan lagi secara normal ketika batu-batu seukuran kelereng terlepas dari kulit penjepit dan melesak menuju sasaran. Yah, kenangan itu sungguh hidup. Sesuatu harus disiapkan dan dilepaskan menuju titik-titik baru. Tidak penting membahas perdebatan abadi Herakleitos ataupun parmenides mengenai Pantha Rei dan sebagainya, tentang yang tinggal tetap, yang berubah dan berpindah tempat, yang mengalir atau yang diam. Saat mengenang petualangan-petualangan kecil kami, di hutan-hutan kecil kami yang sekarang sudah jadi perumahan yang sudah jadi bangunan-bangunan modern, saat itu juga ada rasa yang kuat ingin segera kembali ke sana, kembali memanggul senapan-senapan angin milik kami, dengan kartapel melingkar di leher-leher kecil kami, sekadar berbisik lembut pada dunia, “Kami belum mau pergi dari semua ini.”
Dek II, PTCC
Suatu Pagi jelang 21 Desember 2011
Segitiga bermuda, Golden triangle, segitiga emas, atau apapun istilahnya untuk tempat di antara tiga sudut yang katanya indah di dekat Hawai, pasifik sana mungkin hanya merupakan mimpi untuk saya dan sebagian besar orang. Namun, membayangkan kartapel yang dilingkar di kepala anak-anak Timor atau yang diselipkan di kantung celana, adalah hal yang sangat membekas dan tidak mungkin bisa saya lupakan. Yah, senjata dengan kekuatan kinetis yang bekerja akibat adanya kelenturan dari alat pegas ini merupakan salah satu senjata jarak dekat yang dibawa para penggembala sapi di Timor, atau mereka yang bertugas mengawal ladang dan sawah dari serangan burung pipit yang terkadang kelewatan nakal. Jika banyak orang membanggakan Segitiga bermuda yang besar itu, saya masih setia dengan kenangan saya akan kartapel, dari rangka jambu muda yang dilenturkan dekat tungku api, dikeringkan dan diberi lapisan karet gelang, plus sepotong kulit sebagai tempat diam batu, plastik, atau buah-buahan pohon atau benda seukuran kelereng apa saja yang nantinya menjadi peluru.
Yah kartapel dekat juga dengan istilah “fiti”. Sorry yang terakhir ini bukan nama orang atau nama tempat di Timor. Ini adalah istilah yang sering dipakai ketika seseorang menggunakan kartapel, dengan kata lain lain, “fiti” adalah kata kerja yang berarti aktivitas menggunakan kartapel. Fiti burung misalnya, membuat satu tembakan ke arah burung dengan kartapel. Fiti burung juga bisa berarti aktivitas total memburu burung dengan kartapel, sejak keluar rumah hingga pulang kembali ke rumah, dengan atau tidak dengan hasil buruan. Begitu banyak spesies burung di Timor yang masuk dalam keterpenjaraan akibat garis Weber dan Wallace dalam zoning wilayah fauna dan flora di Indonesia menjadikan “fiti burung” sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan di Timor, serentak sebagai bagian dari pembuktian status dan posisi seorang anak lelaki yang baru beranjak dewasa.
Warga Timor bukan tidak mencintai lingkungan, kesadaran dan tingkat pengetahuan pun mungkin penganak-tirian yang diterima selama sekian tahun dari negara ini membuat koleksi spesies burung sebagai salah satu aset laboratorium alam diabaikan begitu saja, jangankan burung, kerbau liar, rusa, babi hutan, monyet dan beberapa penghuni hutan lainnya senantiasa menjadi incaran warga pulau Timor selain Cendana sebagai salah satu komoditas ekspor sejak jaman dulu. Aturan yang dipaksakan dan dicekoki ke dalam pemikiran yang tidak mau “diluaskan” oleh diktator-diktator Indonesia sejak merdeka hingga kini, membuat warga Timor tidak pantas disalahkan total dalam hal ini. Seperti pembuat perundangan yang tak (pernah) melibatkan masyarakat, pelanggaran melulu bukan karena tidak mau tahu aturan, melainkan karena tidak ada komunikasi dan sosialisasi yang beradab, yang manusiawi dan yang sesuai dengan identitas kultural dan karakteristik warga Timor.
Ok, kita kembali ke kartapel. Sama seperti kebanyakan entitas filosofis lainnya, kartapel bisa ditinjau dari berbagai perspektif. Di atas goncangan gelombang yang menjadi buaian nikmat di malam ini, saya coba membedahnya bersama beberapa batang gudang garam international yang masih tersisa dalam pelayaran ini. Berikut beberapa titik telaah mengenai kartapel.
Dari disiplin matematika/fisika, tentunya kartapel harus diteliti dari kekuatan energi kinetik manusia yang bisa melahirkan gerak maju batu, dari titik awal, dalam kecepatan tertentu, percepatan, hingga di kecepatan puncak, kemudian mungkin perlambatan, dan juga seberapa kuat hantaman yang bisa langsung mematikan. Atau perhitungan mengenai ketepatan sudut segitiga sama kaki yang cenderung memiliki tinggi dua atau tiga kali lipat dari sisi alas. Oiya, kartapel memiliki keunikan lain, ruas-ruas sisinya merupakan kebalikan dari sebuah segitiga. Penghitungannya menggunakan jalur inverse.
Masih berhubungan dengan hal di atas, ilmu Biologi dan Kimia mungkin bisa meneliti sejauh mana hantaman batu yang dilesakkan dari sebuah kartapel bisa menghancurkan fungsi-fungsi vital seekor burung dan membuatnya mati. Pun mungkin kekuatan ranting pohon jambu dan beberapa jenis pohon lainnya yang biasa dipakai sebagai kerangka kartapel, enzim pertumbuhan apa yang bisa membuat pohon jambu yang sering dipilih, dan mengapa proses pemanasan dengan api bisa membuat sedikit lentur batang jambu muda untuk kemudian diproses menjadi rangka kartapel, yang sering disebut “cabang.”
Dari segi disiplin humaniora semisal psikologi dan sosiologi. Para psikolog mungkin bisa mengukur sejauh mana EQ seorang anak lelaki usia belasan tahun pun mungkin sejak delapan atau sembilanan tahun yang tangkas dalam menggunakan senjata yang tidak pernah dilarang dalam pasal-pasal KUHAP ini bisa berkembang dan maksimal. Atau bagaimana dengan anak-anak yang tidak mahir menggunakan kartapel dan berada di komunitas pecinta kartapel.
Dari segi sosiologi dan budaya, efek komunal yang ditimbulkan di kalangan anak-anak Timor yang begitu kuat dimunculkan oleh senjata ini seperti apa? Mengapa anak-anak Pulau Timor dari Timur ke Barat atau dari Utara ke Selatan yang tidak mengenal satu sama lain bisa bersatu sebagai pemakai dan penikmat kartapel. Dan bagaimana kartapel bisa tergusur oleh kehadiran gadget-gadget modern semisal ratusan varian internet dan sebagainya. Di jaman kartapel menguasai pola hidup dan keseharian para gembala kecil dan joki-joki kecil yang bertelanjang kaki tidak pernah ada aksi persetubuhan anak-anak bawah umur, namun sejak warnet marak di kota kelahiran saya, sempat terdengar beberapa kejadian tak senonoh yang tentunya melibatkan dengan sangat langsung anak-anak di bawah umur.
Dari segi agama dan kepercayaan, kebetulan sejarah kelahiran dan perkembangan agama-agama mulai dari purba hingga modern banyak yang menyenggol unsur trinitaris. Lihat saja Tiga Dewa Agung sembahan saudara-saudara Hindu, Brahma, Shiva dan Vishnu, atau aliran kepercayaan Kristen (Katolik) dengan ajaran Tritunggalnya. Kartapel memiliki keterjalinan tiga batang yang senantiasa terhubung satu sama lain, yang tidak akan berfungsi baik jika salah satunya hilang, rusak, patah atau mengalami disfungsi. Begitu juga dengan spiritualitas komunikasi antara pemerintah, penerus budaya dan tokoh-tokoh agama sebagaimana analogi tiga batu tungku, bagaimana kartapel bisa masuk dan membantu mencerahkan masyrakat agamis dari sisi ini. Pernah ada cerita biblis yang mengisahkan bahwa Goliath sang raksasa dikalahkan Daud/David hanya dengan kartapel.
Nah masih berhubungan dengan hal di atas, apakah selama ini sudah ada penelusuran lebih jauh tentang sejarah kartapel dalam historisitas manusia, khususnya siapa yang pertama kali menciptakan atau mungkin membawa masuk kartapel ke Timor? Kartapel bisa menjadi dasar penelusuran sejarah, perkembangan seni perang dan pertahanan, atau juga wahana pembelajaran mengenai petarung-petarung (tentunya dalam level yang bisa dimengerti) Timor yang merimba di setiap saat hidupnya.
Dari sisi kesehatan, tentunya struktur anatomi tubuh manusia khususnya tulang, otot dan sel saraf bisa diteliti jika kartapel digunakan baik secara benar maupun secara keliru. Atau dari sudut pandang olah raga, bagaimana kartapel bisa membantu menguatkan otot bisep dan trisep, akurasi pandangan mata, kecakapan tangan dan posisi kuda-kuda pemegang kartapel saat berdiri.
Pun berbagai keunikan lainnya yang bisa ditelusuri jika ada kehendak kuat untuk membuat riset-riset kecil, murah namun bisa membahasan yang luas tentang masyarakat Timor secara holistis. Mungkin bisa ada film, novel, cerpen, puisi atau roman tentang kartapel.
Di negeri antah-barantah ini, saya mengingat bagaimana nafas-nafas bisa ditangguhkan sejenak, aliran darah dipaksa berhenti sejenak, dan semua itu baru dijalankan lagi secara normal ketika batu-batu seukuran kelereng terlepas dari kulit penjepit dan melesak menuju sasaran. Yah, kenangan itu sungguh hidup. Sesuatu harus disiapkan dan dilepaskan menuju titik-titik baru. Tidak penting membahas perdebatan abadi Herakleitos ataupun parmenides mengenai Pantha Rei dan sebagainya, tentang yang tinggal tetap, yang berubah dan berpindah tempat, yang mengalir atau yang diam. Saat mengenang petualangan-petualangan kecil kami, di hutan-hutan kecil kami yang sekarang sudah jadi perumahan yang sudah jadi bangunan-bangunan modern, saat itu juga ada rasa yang kuat ingin segera kembali ke sana, kembali memanggul senapan-senapan angin milik kami, dengan kartapel melingkar di leher-leher kecil kami, sekadar berbisik lembut pada dunia, “Kami belum mau pergi dari semua ini.”
Dek II, PTCC
Suatu Pagi jelang 21 Desember 2011
Sunday, December 18, 2011
Menikmati lagi Kota dengan Banyak Pintu
Semarang menyambut kami di awal bulan Desember. Masih dalam kebingungan dan kebuntuan akan sebuah usaha yang tentunya belum pasti. Saya dan Alex KW (begitu dia menyebut dirinya) harus rela dilatih bersama dengan sekumpulan ABG yang juga akan menempuh perjalanan bersama kami ke tempat-tempat yang sudah pasti belum kami bayangkan sebelumnya. Santai dan pura-pura gila (ini kalimat yang biasa dipakai salah seorang saudara dekat saya di Malang beberapa waktu lalu).
Untunglah yang dilatih untuk mendampingi para tamu selama pelayaran di laut hanya kami berdua dan tentunya kelas kami sedikit berbeda dengan mereka yang lainnya yang nantinya membantu di bagian navigasi, mesin dan beberapa urusan rumah tangga lainnya. Kami hanya diajarkan keramahan dalam merealisasikan etiket berbicara dan menjawab pertanyaan.
Ini mungkin kali kesekian saya mendapat pelajaran mengenai etiket dan ini juga untuk kesekian kalinya saya harus bosan dan tidak bisa berkata apa-apa saat saya diajari bagaimana memberikan jawaban dan bagaimana mengajukan pertanyaan. Namun, semua ini tetap merupakan pelajaran untuk saya. Dan, hanya ada satu kata manis, mendengarkan. Tidak banyak orang bisa mendengarkan dengan baik, bahkan tidak banyak orang bisa mendengar saat mereka harus mendengar.
Kami menghabiskan hampir seminggu di pusat pelatihan di kota yang keren dengan Pintu Seribunya ini dan juga diberi kesempatan sehari untuk menikmati eksotisnya ketinggian Bandungan, sebelum mempersiapkan diri kami untuk materi pembekalan dan pelatihan serta langsung dengan tugas pertama mendampingi beberapa wisatawan berkantung tebal dari kawasan Asia yang naik PTCC dan akan singgah sebentar di wilayah Jawa Tengah.
Ada ingatan yang setidaknya agak membuat trauma ketika saya dihadapkan dengan kota ini, namun ada juga spirit yang membuat saya kuat bahwa ada Magnalia Dei yang senantiasa tidak bisa diintrepretasi oleh siapapun di dunia ini yang kalau boleh dikategorikan ke dalam semua yang berserah mutlak kepada-Nya. Penyelenggaran Ilahi ini, Karya Agung ini tidak akan lewat begitu saja, jika tidak ada kata maaf yang tulus, pertobatan dan metanoya yang sejati (hah??? Koq saya seperti kontemplasi, wkwkw)
Hari-hari kami di Semarang cukup baik, jika tidak mau dibilang tidak mengecewakan. Dan seperti biasa, ada yang datang dan pergi, dan kami yang datang, harus pergi juga. Hidup ini juga adalah sebuah persinggahan antara yang kekal dan yang sementara. Hidup ini adalah lahan kosong yang mungkin saja senantiasa diperebutkan yang fana dan baka dalam pertempuran yang tentunya tak berujung. Dan banyak pintu, banyak persimpangan di kota ini, tentunya adalah sebuah refleksi tiada henti akan sebuah petualangan yang juga jangan dibiarkan berhenti. Petualangan itu selalu berisi harapan, laiknya hidup yang juga berisi harapan.
Saat mimpi-mimpi saya juga ternyata hanya merupakan persinggahan
Untunglah yang dilatih untuk mendampingi para tamu selama pelayaran di laut hanya kami berdua dan tentunya kelas kami sedikit berbeda dengan mereka yang lainnya yang nantinya membantu di bagian navigasi, mesin dan beberapa urusan rumah tangga lainnya. Kami hanya diajarkan keramahan dalam merealisasikan etiket berbicara dan menjawab pertanyaan.
Ini mungkin kali kesekian saya mendapat pelajaran mengenai etiket dan ini juga untuk kesekian kalinya saya harus bosan dan tidak bisa berkata apa-apa saat saya diajari bagaimana memberikan jawaban dan bagaimana mengajukan pertanyaan. Namun, semua ini tetap merupakan pelajaran untuk saya. Dan, hanya ada satu kata manis, mendengarkan. Tidak banyak orang bisa mendengarkan dengan baik, bahkan tidak banyak orang bisa mendengar saat mereka harus mendengar.
Kami menghabiskan hampir seminggu di pusat pelatihan di kota yang keren dengan Pintu Seribunya ini dan juga diberi kesempatan sehari untuk menikmati eksotisnya ketinggian Bandungan, sebelum mempersiapkan diri kami untuk materi pembekalan dan pelatihan serta langsung dengan tugas pertama mendampingi beberapa wisatawan berkantung tebal dari kawasan Asia yang naik PTCC dan akan singgah sebentar di wilayah Jawa Tengah.
Ada ingatan yang setidaknya agak membuat trauma ketika saya dihadapkan dengan kota ini, namun ada juga spirit yang membuat saya kuat bahwa ada Magnalia Dei yang senantiasa tidak bisa diintrepretasi oleh siapapun di dunia ini yang kalau boleh dikategorikan ke dalam semua yang berserah mutlak kepada-Nya. Penyelenggaran Ilahi ini, Karya Agung ini tidak akan lewat begitu saja, jika tidak ada kata maaf yang tulus, pertobatan dan metanoya yang sejati (hah??? Koq saya seperti kontemplasi, wkwkw)
Hari-hari kami di Semarang cukup baik, jika tidak mau dibilang tidak mengecewakan. Dan seperti biasa, ada yang datang dan pergi, dan kami yang datang, harus pergi juga. Hidup ini juga adalah sebuah persinggahan antara yang kekal dan yang sementara. Hidup ini adalah lahan kosong yang mungkin saja senantiasa diperebutkan yang fana dan baka dalam pertempuran yang tentunya tak berujung. Dan banyak pintu, banyak persimpangan di kota ini, tentunya adalah sebuah refleksi tiada henti akan sebuah petualangan yang juga jangan dibiarkan berhenti. Petualangan itu selalu berisi harapan, laiknya hidup yang juga berisi harapan.
Saat mimpi-mimpi saya juga ternyata hanya merupakan persinggahan
Subscribe to:
Posts (Atom)










